Tahun 2016, IPB Buka Dua Program Studi Baru

Sidang Pleno Senat Akademik Institut Pertanian Bogor (IPB) mengesahkan dua program studi (Prodi) baru, yakni Program Studi Aktuaria dan Program Studi Teknologi Hasil Ternak (THT). Program Studi Aktuaria di bawah naungan Departemen Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), sedangan Program Studi THT berada di bawah naungan Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP) Fakultas Peternakan (Fapet).

“Kedua prodi ini baru dibuka untuk jalur Ujian Talenta Masuk IPB (UTMI) 2016 dengan kuota masing-masing prodi 40 orang. Sementara itu untuk program Pendidikan Diluar Domisili (PDD) IPB di Sukabumi, kuota yang disediakan adalah 30 orang untuk masing-masing prodi (Agronomi dan Hortikultura, AGH dan Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, ESL). Jadi tambahan kuota mahasiswa baru tahun ini ada 140 orang,” ujar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB, Prof.Dr. Yonny Koesmaryono dalam Jumpa Pers di Ruang Sidang Rektor Kampus IPB Darmaga (18/5).

Ada lima perguruan tinggi negeri yang mendapat mandat dari Kemenristekdikti untuk membuka prodi aktuaria yakni IPB, UI, UGM, ITS dan ITB. Program studi S1 Aktuaria IPB merupakan program sarjana bidang aktuaria pertama di Indonesia.

Seperti halnya dokter, insinyur, pilot, penyuluh dan beberapa profesi lain, ahli aktuaria (aktuaris) merupakan profesi yang berkembang seiring dengan semakin majunya peradaban dan semakin beragamnya kebutuhan manusia.

Prof. Yonny mengatakan, aktuaris sering disebut sebagai arsitek finansial atau ahli matematika sosial. Sebutan ini, terang Prof Yonny, dikarenakan kombinasi daya analisis dan kemampuan bisnis unik yang mereka miliki dalam menghadapi tantangan finansial dan sosial yang makin berat dan beragam.

Menurut Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), saat ini jumlah aktuaris yang ada di Indonesia hanya 300 orang sedangkan yang dibutuhkan dalam dunia kerja mencapai 5.000 orang. Untuk tahun pertama, PAI menyerahkan dana 100 juta untuk beasiswa. Pengaturan beasiswa diserahkan kepada IPB.

Aktuaris umumnya bekerja di industri asuransi jiwa, asuransi umum, asuransi sosial, reasuransi, asuransi jiwa syariah, konsultan aktuaria, dana pensiun, investasi/bursa, keuangan/perbankan, pendidikan, konsultan manajemen, kemenkeu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Pengembangan ilmu aktuaria merupakan langkah penting dalam menjawab tantangan kehidupan yang semakin berat dan menghadapi ancaman yang bersifat tidak pasti dan berisiko besar secara ekonomi. Aktuaris menempati posisi strategis dalam industri keuangan mengingat perannya dalam memperkirakan peluang terjadinya peristiwa di masa depan beserta risiko keuangan yang menyertainya.

Oleh karenanya, seorang aktuaris membutuhkan pengetahuan memadai dalam bidang matematika, statistika, ekonomi dan beberapa bidang pendukung lain. Sebuah kualifikasi yang membuat jumlah aktuaris di Indonesia masih rendah.

Untuk memenuhi kebutuhan aktuaris diperlukan kerjasama antar pihak, yaitu pemerintah (OJK), industri keuangan, organisasi profesional dan perguruan tinggi. Dalam perspektif ini, perguruan tinggi memegang peran sentral pengembangan pendidikan, penelitian dan penerapan aktuaria di Indonesia.

Sementara itu IPB pernah memiliki Program Studi THT hingga tahun 2005. Karena ada restrukturisasi, prodi tersebut dilebur dengan Departemen IPTP. Hal yang sama terjadi juga di seluruh perguruan tinggi lain yang memiliki Fakultas Peternakan.

“Tahun ini, kita re-open lagi prodi THT karena kebutuhan dan konsumsi kita terhadap hasil ternak yang besar. Prodi THT memiliki tugas menyiapkan tenaga terdidik dan terampil untuk mengembangkan inovasi dan kreativitas dalam pengembangan pengolahan hasil ternak. Kehadiran Program Studi THT memperluas bidang keilmuan dan pelengkap hulu-hilir di Departemen IPTP,” ujar Dekan Fakultas Peternakan, Dr. M. Yamin yang hadir dalam jumpa pers tersebut.

Pada sisi keilmuan, mahasiswa akan diajarkan ilmu dasar pengetahuan bahan dan komoditi ternak yang terintegrasi pada proses hulu dan hilir. Komoditi yang dipelajari bisa pangan (susu, daging, telur, madu dan lain-lain) dan non pangan (kulit, bulu, tulang, darah, limbah Rumah Potong Hewan (RPH), feses, urin, biogas dan lain-lain).

Untuk mendapatkan gelar sarjana dari kedua program studi ini, mahasiswa harus menyelesaikan masa studi selama empat tahun atau 146 SKS untuk Sarjana Aktuaria dan 144 SKS untuk Sarjana Peternakan.(zul)  

 

Download PDF : Tahun 2016, IPB Buka Dua Program Studi Baru