Memperingati Hari Lingkungan Hidup 5 Juni, Guru Besar IPB Suarakan Penderitaan Korban Kebakaran Hutan

Kejadian hebatnya kerusakan lingkungan akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada tahun 2015  mengakibatkan  kerugian sekira Rp 221 triliun, menurut perhitungan bank dunia. Selain itu penderitaan umat manusia khususnya Indonesia karena 70-80 persen wilayahnya telah diokupasi oleh asap yang seakan tidak terhenti yang terjadi dari hari ke hari dan bulan ke bulan, sepatutnya menjadi pelajaran agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Untuk itu, dalam rangka Hari Lingkungan Hidup 5 Juni, Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Bambang Hero Sahardjo  mengajak semua pihak untuk berkewajiban mewujudkan lingkungan hidup lebih baik. Menurutnya, keinginan ini bukan sekadar catatan kecil dari masyarakat yang terkena dampak kerusakan dan keinginan segelintir orang. Prof Bambang menyampaikan hal itu dalam jumpa pers di kampus IPB Baranangsiang, Bogor (4/6).

Dikatakannya, dampak kerusakan lingkungan yang terjadi di tahun 2015 sangat luar biasa mulai dari rusaknya lingkungan, pelepasan emisi gas rumah kaca yang tidak sedikit di tengah upaya pemerintah menguranginya, terganggunya kehidupan manusia, termasuk hubungan antar negara juga terganggu, hingga kepada kematian mereka yang tidak berdosa karena sebagai korban dari ketidakadilan dan tidak terdengarnya suara penderitaannya. 

Upaya pemerintah menurut Prof Bambang, sudah menunjukkan keseriusan dengan merespon atas apa yang terjadi pada tahun 2015, khususnya akibat terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan, dengan mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada tahun 2016. Target BRG ini paling tidak hingga 2020 terdapat sekira dua juta hektar lahan gambut yang rusak perlu direstorasi baik yang terdapat di lahan korporasi, kawasan lindung, kawasan konservasi dan milik masyarakat. 

Seiring dengan berdirinya BRG tersebut maka ditindaklanjuti dengan aturan lain yang mengikat agar peran gambut semakin menjadi baik. Dengan cikal bakal PP 71/2014 yang sudah ada sebelumnya, maka lahirlah PP 57/2016 dan Permenlhk turunannya seperti Permenlhk 14/2017, 15/2017, 16/2017 dan 17/2017, dengan maksud agar kegiatan restorasi dan penyelamatan gambut dapat berjalan dengan baik serta menghindari ancaman kebakaran yang mungkin akan terjadi lagi. Bersamaan dengan itu pula maka tindakan penegakan hukum baik secara administratif, pidana dan perdata, terus ditingkatkan baik oleh pihak kepolisian maupun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemenlhk) RI dan putusan pun sebagian telah dihasilkan dengan segala konsekuensinya.  

Namun seiring dengan upaya implementasi aturan-aturan tersebut juga penindakan terhadap pelaku perusak dan pencemar lingkungan khususnya melalui pembakaran baik yang dilakukan secara sengaja maupun lalai, maka Kemenlhk mendapat serangan balik oleh karenanya. Hal itu misalnya dilakukan seperti uji materi Permenlhk No.7 tahun 2014 tentang “Kerugian Lingkungan Hidup Akibat Pencemaran dan/atau Kerusakan Lingkungan Hidup” yang merupakan turunan UU No.32/2009 di Mahkamah Agung yang diajukan oleh GAPKI dan dimotori oleh Tim Pakar beranggotakan Staf pegajar PTN yang berdomisili di Bogor bergelar Doktor dan Calon Prof. serta Judicial Review terhadap pasal 69, pasal 88, 99 UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan pasal 49 UU no.41/1999 tentang Kehutanan, khususnya tentang “strict liability” di Mahkamah Konstitusi yang diajukan oleh APHI DAN GAPKI.

Fakta ini semakin menegaskan bahwa keinginan untuk lepas dari tanggungjawab dan melegalkan perbuatan merusak dan mencemarkan akibat membakar baik dilakukan secara sengaja dan lalai karena dianggap tidak rusak bukan merupakan cerminan sebagai pihak yang bertanggungjawab dan peduli terhadap masa depan lingkungan, keinginan untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik dan masa depan lebih baik ternyata justru dirusak oleh mereka yang selama ini mengaku paling mengerti dan peduli terhadap lingkungan.(dh)

 

Download PDF : Memperingati Hari Lingkungan Hidup 5 Juni, Guru Besar IPB Suarakan Penderitaan Korban Kebakaran Hutan