"Aeroplane-Commuter Mode" A Research Forum for seeking Essential Community Welfare

“Aeroplane-Commuter Mode”
A Research  Forum for seeking Essential Community Welfare
 By
Ali M.A.Rachman



Abstract
“Aeroplane – Commuter Mode” is  based  on  human ecology, anthropology and sociology, rural  sociology and agriculture in my teaching  class and in research note finding. This mode  is expression product  both teaching and research  that I had done. Mostly my fieldwork research to collect data  toward rural community such as forest community, farmer of  palm oil,   paddy field farmer, offshore small fishers community, transmigration program of rural community, city community or urban society  since the year  1969 up to now.

I think “aeroplane –communter mode”  be  the best  use  to test   in order  to help students researcher to collect useful  data   of his thesis or dissertation  in appropriate  utility. This mode  is also will be  useful and  at least of  alternative   need  in research  for community welfare as a whole in application. It is  also suggestion that good to test too  as compliment to bottom up planning and development programs  theory known   in  global era today .

The  framework “aeroplane – commuter mode”  is a holism approach in subject matter be based on  five component ( 1) ‘Traditional Knowledge and Modern Knowledge synthesis and its tract ’   as  the body of the aeroplane  and commuter movement with (2) ‘Public Policy’,(3) ‘Wisdom’ as part of front and back of ‘Aeroplane’  or   as  the head of  ‘Commuter’ and , (4) ‘Eco Technology’, (5) ‘Inheritance Economic’ as wing of aeroplane and both of them  is still remain  with  the body and its tract of  commuter function.
I have noted here to encourage “ aeroplane –commuter mode “ to whom   great desire in writing   post colonial community  such as rural community and  city community  in Indonesia  today. I  hope all of our effort  will be contribution to the state  in production  of  filter forum  and  necessary  reaction toward External Social Environment(ESE) which not suitable  with  a nation unity, element of essential cultural core of community welfare  for the whole as nation freedom. Data collection focus is  to  strategic  village –city development today.


Pendahuluan
Judul “Aeroplane – Commuter Mode” atau ditulis dengan  ‘Airplane – Commuter Mode’ seperti tertera di atas  saya ajarkan  kepada calon S3 PSL  IPB dalam  tahun  2014. Situasi kelas pada umumnya adalah  mahasiswa senior dalam bidang tugas kerja masing-masing. Dalam diskusi saya mendengar mereka menghadapi banyak masalah social –budaya- economi dalam memerankan tugasnya dalam masyarakat. PSL salah satu harapan mereka yang mungkin dapat mencari jawaban untuk membantu  tugas mereka itu setelah selesai disertasinya.
Ketika saya minta mereka menuliskan rancangannya harapannya dan fikiran sementara disertasinya saya dapat menangkap kira-kiranya harapan-terpendam itu.  Oleh karena itu saya coba sajikan  ‘essential cultural core’(inti sosiobudaya pokok). Saya gunakan pemikiran para antropolog kenamaan yang ada, diantara mereka telah tiada lagi, telah kembali menemui tuhannya,  namun pemikiran mereka sangat cemerlang dan telah banyak mengingatkan diri kita dalam kehati.hatian dalam rekayasa. Perlu disadari apabila mengajarkan dan menerapkan rekayasa yang tidak tepat entah apa saja namanya dalam pembangunan konon, yang mungkin sering dibanggakan,  kemungkinan berakibat fatal  amat besar bagi kemandirian masyarakat itu. Tentu saja pembangunan seperti ini saya yakin kita tidak inginkan.

Setelah saya renungkan dan menggunakan pengalaman  saya  sejak belajar mengajar dan belajar  penelitian serta  melaksanakan tugas lapang sejak  sebagai asisten di Bagian Sosiologi Pedesaan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor(IPB)  tahun 1968  bahkan  hingga kini setelah  Professor mengajari saya bahwa dalam menggerakkan pembangunan masyarakat tampaknya banyak kecerobohan yang agaknya tidak disadari bahwa ‘essencial cultural core’ amat penting tetapi terlupakan. Dalam hal ini  program pembangunan selalu mengejar ‘target’ yang tidak bersentuhan bahkan tidak sambung menyambung dengan inti sosiobudaya masyarakat yang terkena program pembangunan itu. Saya yakin hal ini sudah tidak asing lagi disadari sebagai ‘fallacy’ atau ‘bias’(cf Ali M.A.Rachman 2012,  “ Pengetahuan BaRu bagi Kesejahteraan Masyarakat” disingkat “RUMAS”, Bogor: IPB Press). Namun penelitian terus berusaha membetulkannya tetapi terletak pula kepada adanya ‘external social environment’(disingkat ESE atau Lingkungan Sosial Luar disingkat LSL) yang tidak kalah penting berpengaruh dalam pembangunan Indonesia sejak Pelita I(Pembangunan Lima Tahun Pertama) tahun 1969,  era Presiden Soeharto (cf Ali M.A.Rachma 2013 “Membangun Kembali Dunia Baru Indonesia, Bogor: IPB Press).

Memang disadari globalisasi itu mengandung ESE  hampir tidak dapat dihindarkan.  Namun diyakini pengaruh buruknya ESE dalam globalisasi itu dapat diatasi dengan memperkuat kemandirian dengan tekad berpedomankan ‘essential cultural core’ yang kuat yang tersimpan di dalam dada masyarakat sebagai keperibadian bangsa. Apabila keperibadian bangsa ini diajarkan kembali  yang selama ini  mungkin telah redup mudah-mudahan dapat jadi  semangat baru. Pada giliran berikutnya  diharapkan globalisasi benar-benar tidak ditakuti tetapi turut serta bersambungan dengan inti sosiobudaya namun sifatnya  yang  memperkuat ‘essential cultural core’. Dengan kata lain  tetap menolak yang tidak sesuai dengan ‘essential cultural core’ itu. Berbagai  kasus seputar ‘kedukaan’ menggerakkan masyarakat dalam berbagai program mencapai kesejahteraan masyarakat telah dialami, diceritakan, didiskusikan para mahasiwa  dalam kelas PSL yang saya utarakan di atas.

Selama tugas mengajar, saya  memberi informasi dan mengajak   mahasiswa bersama-sama memahami  apa artinya dalam  kenyataan ‘ desa-kota’ dalam pembangunan dan bagaimana strategi  pembanunan sebaiknya dilakukan  agar masyarakat tumbuh ‘viability’.

‘Viability’ itu merupakan upaya para antropolog yang berpengalaman lapangan luas dan  kenamaan sekaliber Margaret Mead dkk yang tidak asing lagi bagi para antropolog setelah generasinya. Para antropolog senior ini  memberi jalan memahami dengan mendefinisikan ‘village’, ‘villager’ dan ‘village structure’. Defini itu  yang kemudian saya  selaraskan dalam pelajaran  sebagai hubungan  pembangunan desa- kota kini.  Dalam hal ini saya berfikir baik desa maupun kota tidak statis, pasti akan tetap  mengalami perubahan. Namun perubahan itu seidealnya dijalani sebagai perubahan   ‘alami’ dengan nama lain ‘viability’ yang identik dengan kalau diumpamakan seperti menumbuhkan bibit tanaman secara kondusif memerlukan pupuk yang wajar. Tentu saja pemikirqn program pembangunan  dalam hal ini tidak terlepas dari upaya sadar terpeliharanya  ‘essential cultural core’ yang telah diutarakan terlebih dahulu di atas. Hubungan desa-kota seperti itu paling tidak terdiri dari komponen (1) ‘ physical attributes of the village’ yang dalam hal ini dasarnya ‘village’  dan arah tumbuh kembangnya ‘city’ sehingga jadi ’desa- kota’. Komponen ini lengkap dengan (completeness) yang terdiri dari ‘population size’ (besar kecilnya populasi), ‘composition’(susunan dan bentuknya physic desa-kota itu), ‘houses’(perumahan, letak dan keteraturan tersusunnya dsb), ‘bounded terrytory’( batas-batas alami, buatan  yang menyangkut hak dan aturan kesepakatan  nilai-nilai dan norma dsb), ‘resources’(dalam hal ini seperti sumber air untuk minum, mencuci, pengelolaannya dsb), ‘site permanence degree of’    ( tingkat atau derajat kebolehan dalam nilai-nilai dan norma yang diakui dalam masyarakat) dikaitkan dengan’(2) villager’ yang merupakan ‘cohesiveneness’ menuju perubahan kearah terbangunnya‘city’ secara alami yang penghuninya secara physic kondusif hidup bersama dengan nilai-nilai dan norma yang mereka taati bersama) mencapai kesejahteraan bersama. Minimal dalam komponen kedua ini telah diyakini kebersamaan itu perubahannya tidak menyimpang dari nilai-nilai dan norma yang  melebihi potensi semasa  berada dalam anggota ‘village’. Dengan kata lain hubungan interaksi tetap menjaga  komunikasi masih  utama dalam bentuk  ‘face to face’ walaupun mereka disebut ‘orang kota’. Alangkah janggalnya terasa apabila bertetangga tanpa sapa di kota. Kalau ini terjadi kurang mesra sebagai penduduk kota dan dinilai dari sisi moral tanpa sapa sudah kurang pas dalam hidup bersama dan dianggap cenderung menyimpang. Meskipun di kota keluarga cenderung keluarga ‘nuclear’ (inti) saja namun tidak heran ‘ extended  family’( keluarga besar) tetap terpelihara.

Pada dasarnya komponen ‘villager’ tetap villager sebagai mana aslinya dari ‘village’ apabila di kota atau village jadi city ia tetap akan cohesiveness dalam semua bidang kehidupan setelah berubah jadi kota dengan memegang teguh nilai-nilai dan norma asli village yang disana sini yang berubah hanyalah dinamikanya. Mereka tetap menjaga pola kebersamaan dalam bentuk (3) ‘structure/organization’ yang kondusif sebagai bentuk perubahan yang ‘viability’ dan yang ‘inclusiveness’ sebagai komponen ketiga dari definisi village yang ‘viability ‘ tumbuh kembang . Ketiga komponen di atas merupakan matrik yang berubah sepanjang ada treatment atau suatu rekayasa dengan berbagai nama termasuk kefahaman kita dalam pembangunan yang mungkin saja menjadi ‘fallacy’ tanpa tumbuh kembang dari ‘inner  cultural core’ masyarakat  yang terkena sasaran rekayasa itu.

Pembicaraan ‘essential cultural core’, external social environment dan ‘viability’ desa-kota merupakan tiga rangkaian yang tidak lepas satu sama lain. Berbagai bangsa di dunia yang telah berhasil memandirikan bangsanya dalam globalisasi tampak memiliki strategi tertentu. Tulisan ini tidak membibicarakan strategi bangsa –bangsa itu tetapi diyakini bangsa-bangsa yang telah memenangkan global itu tentu memasang strategi untuk sukses mereka. Bagi kita bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di Asia Tenggara ini tentu tidak akan mau dipandang tidak mandiri. Alasannya  sederhana saja masih banyak kearifan yang terpendam yang patut dijaga dan digali dari dalam bangsa sendiri yang potensial jadi modal bangsa mandiri dan mungkin sekali potensi itu amat besar seperti misalnya dalam  hal mengatur, menata kehidupan bangsa menjadi sejahtera tidak tergantung dengan  bangsa  lain. Saling belajar boleh-boleh saja tetapi dalam rangka mengembangkan , membangun diri bangsa sendiri hendaklah diajarkan kepada anak bangsa.

Sehubungan fikiran di atas yang sifatnya menjaga marwah bangsa dan harga diri perlu  melakukan penelitian (research ) yang datanya otentik ‘alami’- ‘viability’ dalam semua bidang kehidupan ‘holism’ yang diberi nama ‘aeroplane –communter  mode’.

Saya gunakan judul ‘aeroplane – commuter mode’ karena teringat akan dua system. Pertama system ‘commuter’ yang kini digunakan dalam system perkereta apian.  ‘Commuter’ kalau dijalankan dalam relnya tidak usah ganti kepala kereta api(lokomotif) seperti kereta api zaman  dahulu karena kereta api modern sekarang  depan dan belakangnya  berfungsi sama yaitu  tetap maju. Pokoknya depan dan belakang tetap jadi kepala. Pergantian itu secara teratur bila kereta api telah sampai di tujuan. Dengan kata lain  tidak ada istilah kepala kereta api(lokomotif) lagi untuk menarik gerbong karena belakangpun bisa jadi depan untuk menarik gerbong. Kedua,  kata ‘aeroplane’  menunjukkan  bagaikan pesawat terbang bergerak di udara. Dengan kata lain model  ‘ aeroplane –commuter mode’ merupakan  sarana bergerak maju seolah-olah tanpa halangan dengan cara berfikir  sederhana yaitu  apabila berjalan di ‘rel bumi’ mudah maju dan mundur  dan apabila mau lebih cepat dapat terbang di ‘rel  udara’.

‘Aeroplane – Commuter Mode’ dapat berguna sehubungan dengan  isi konsep berfikirnya merupakan hasil lakonan  pengalaman  dalam masa panjang yang merupakan dan menjadi falsafah sesuatu ‘masyarakat bangsa’ yang membangun bangsanya. Tentu bentuk  falsafah masyarakat bangsa itu tergali dari masyarakat dalam proses belajar mengajar dalam kehidupan yang beradaptasi dan  seleksi  dalam lingkungan sendiri.
Pada 17 Agustus 2015 Indonesia  telah merdeka  genap berusia 70 tahun. Sudah pasti kesempatan evaluasi, muhasabah diri  yang tidak boleh dilupakan tentang apa yang sudah dicapai, apa bentuk pencapaian itu sudah memuaskan yaitu kesejahteraan bagi segenap bangsa, merata adil dan bijaksana ? ‘Aeroplane –Commuter Mode’ dimaksudkan bentuk upaya memahami dari sisi penelitian untuk melihat kembali tentang sejauhmana telah terjawab  pertanyaan tersebut. Upaya penelitian ini patut dilakukan sebagai sarana evaluasi diri, untuk memahami  sebagai bangsa yang relative usia dewasa merdeka.

Disadari telah banyak  upaya dalam perjalanan kemerdekaan ini  guna mencapai kemakmuran bersama itu bagi segenap  warga bangsa. Upaya-upaya itu terutama tentunya berwujud ‘knowledge’ pengetahuan sebagai guna mencapai kesejahteraan  bersama tersebut yang tepat dan cukup agar tindakan nyata dalam mencapai kesejahteraan itu tidak meleset.

 Ada tertanam kebiasaan dari dalam masyarakat sehubungan dengan pengetahuan itu. Pengetahuan kesejahteraan asal dari dalam masyarakat itu telah membuktikan masyarakat bersangkutan sejahtera karenanya. Para pendiri Negara bangsa  Indonesia ini dalam mendirikan bangsa merdeka telah sedikit sebanyaknya telah memperhitungkan pengetahuan yang bersumber dari dalam masyarakat tersebut. Mari kita bangga dan hormati para pendiri bangsa ini yang telah bertungkus lumus merumuskan pemikiran mereka menyatukan seluruh masyarakat  yang aneka ragam menjadi satu bangsa besar yang telah merdeka  jaya  hingga era global kini. ‘Aeroplane –Communter Mode’ satu upaya menggali kembali pengetahuan tersebut yang konon merupakan tradisi generasi tua. Seharusnya perlu diteruskan hingga kini agar keberlanjutan jaya bangsa mandiri berterusan  dalam semua era.

Mengenal dan kembali kepada pengetahuan tradisi bukan berarti mundur untuk kembali kepada kondisi sebelum merdeka tetapi pengetahuan ini merupakan kearifan bangsa yang menjadikan bengsa ini merdeka dan diharapkan lebih berjaya dan terhormat  dengan pengetahuan akar bangsa sendiri yang menghasilkan kekuatan sendiri yang selama ini terpendam. Bangsa dengan pengetahuan  sendiri mencapai kesejahteraannya adalah bangsa besar. Ini bukan berarti menolak segala yang baharu. Memadukannya ada caranya(Cf Ali M.A Rachman, 2012 Pengetahuan BaRu bagi Kesejahteraan Masyarakat(disingkat RUMAS), Bogor: Penerbit IPB Press ).  Pada era global kini pengetahuan tradisi ini yang tentunya jadi dasar dan sumber inti sosiobudaya bangsa dapat dipadukan dengan hasil-hasil penelitian universitas dengan cara menseimbangkannya  tanpa melemahkan pengetahuan tradisi itu. ‘Aeroplane –Communter Mode’ menjaga perimbangan tersebut dengan menempatkan pengetahuan tradisi itu sebagai inti(core) sehingga pemahaman dalam hal revolusi diperlunak dengan ‘coevolusi’ yaitu budaya bangsa tetap terjaga, modernisasi terus berjalan secara wajar. Dengan kata lain menerima era globalisasi tetapi seleksi tidak membawa malapetaka bagi anak bangsa. Di dalam ‘Aeroplane –Commuter Mode’ tempatnya diumpamakan badan pesawat terbang dan kalau pada kereta api diumpamakan sebagai seluruh rangkaian kereta api dari rel, gerbong hingga lokomotifnya atau seluruh ‘commuter’.

Difahami bahwa ‘bagian depan dan bagian belakang’ communter berperan sebagai lokomotif Itu berarti amat penting karena akan membawa penumpang dalam gerbong. Dari lokomotiflah seluruh rangkaian berjalan dengan tertib mencapai tujuan seluruh penumpang kereta api. Dengan kata lain gerbong dan seluruh isinya berupa penumpang amat tergantung kepada lokomotif ini. Bila lokomotif mogok penumpang tidak sampai tujuan. Hal yang sama apabila diumpamakan dengan kapal terbang. Pentingnya depan dan belakang kapal terbang diibaratkan dengan kemudi kapal terbang dan ekor yang juga mengatur perjalanan kapal terbang.

Konsep ‘Aeroplane-Commuter Mode’ memilih kapal terbang juga sebagai umpama turut  memerankan pengetahuan mensejahterakan seluruh bangsa. Khususnya   dalam hal ini  perumpamaan agar penumpang selamat bahagia, sejahtera mencapai tujuan perjalanannya dengan tetap selamat. Namun baik kereta api maupun kapal terbang perlu  dilengkapi dengan ‘pengetahuan’ khusus yaitu  yang  berbentuk ‘arif’ dan ‘bijak’. Selanjutnya kedua pengetahuan ini kita beri nama ‘Kearifan tempatan’(Local Wisdom) dan ‘Kebijakan umum’(Public policy).

Kereta api menjadi ‘Communter’ dan penumpang terbang dengan pesawat terbang dapat diumpakan percepatan mencapai tujuan penumpang. Oleh karena itu apa yang dikenal dengan nama revolusi( gerak cepat merubah) mencapai tujuan tidak selalu tercapai cepat dan selamat. Sering sekali membawa ekses buruk menimbulkan  celaka berkepanjangan yang dalam hal ini  bila diteliti mendalam misalnya termasuk revolusi  hijau  yang dibanggakan . Oleh karena itu perlu dicari jalan selamat  sejak awalnya ketika  hendak memasuki modernisasi itu karena unsur modernisasi ditenggarai lebih mudah mengisi dengan revolusi tetapi terlupakan ekses negatifnya..

Jalan keluar yang  moderat yang mungkin besar sekali akan lebih selamat ialah dengan mengisi   ‘pengetahuan’ untuk mensejahterakan masyarakat bangsa dengan dasar-dasar ‘coevolusi’. Ini merupakan upaya jalan tengah  karena coevolusi berisi pengetahuan tradisi yang telah menjalani uji coba yang panjang dalam adaptasi dan telah menjalani seleksi yang berkelanjutan ( perhatikan juga  konsep  sustainability masa ini dalam modernisasi).
Pesawat terbang diumpakan pula idaman  cepat mencapai tujuan selamat sejahtera makmur merata  adil bagi seluruh bangsa (gemah ripah loh jinawi tatatenterem kerta raharja). Sekali lagi percepatan ini tetap tidak melupakan  ‘coevolusi’ yang unsure-unsurnya pengetahuan  bersumber  inti sosiobudaya masyarkat. Bidang yang tercatat penting sekali sebagai hajat masyarakat banyak adalah ekonomi dan teknologi. Selayang pandang saja kedua bidang ini sudah  tidak diragukan lagi menjadi tuntutan, hajat, harapan  masyarakat,  orang banyak untuk mencukupkannya sebagai upaya mencapai hidup dalam hidup sejahtera. Agar kedua bidang ini tidak meleset(bias/fallacy pencapaiannya perlu dikontrol dengan ‘coevolusi’ yaitu dengan label ‘eco technology( teknologi bersumber ekosistem)  dan ‘inheritance economic’(ekonomi tradisi  warisan ). Kedua bidang ini diperankan sayap kapal terbang dan masih diperankan seluruh rangkaian ataupun kalau oleh ‘commuter’ perlu diciptakan  ‘ commuter’ model baru yang  ‘bersayap’?).

Uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya menggali potensi masyarakat sendiri sebagai modal pembangunan bangsa yang telah merdeka dewasa ini berusia 70 tahun. Hendaknya ihtiar apapun perlu dicari dalam menggali kekuatan sendiri. Data abash dan akurat  sangat diperlukan karena adanya data memudahkan rencana dan  program pembangunan berjalan di atas rel yang insya Allah pasti. Peran ini tidak lain dipercayakan kepada institusi pendidikan  yang sangat perlu membangun keperibadian bangsa sejak  sekolah paling dasar hingga Perguruan Tinggi(PT) dalam mendidik anak bangsa yang kelak menjadi pewaris bangsa dan yang menjayakannnya. Khusus kepada PT para pemikir  alumninya tentu haruslah berkualitas patriotik mengemban amanah bangsa dalam bidang ilmu dan terapannya bebas dari polusi  sebagai akibat  yang tidak sesuai bagi  tumbuh kembangnya bangsa apalagi yang kalau ada terang-terangan merusak bangsa.  Tentu saja sangat nyata peranan pemegang kebijakan dalam hal pemerintah terkait yang hendaknya turut serta bahu membahu bersama institusi pendidikan yang hari ini kalau benar sudah dirasakan lemah segeralah sadari untuk perkuatannya.

 Wallahua’lam bissowab.





Download PDF : "Aeroplane-Commuter Mode" A Research Forum for seeking Essential Community Welfare