Mahasiswa IPB Hasilkan Biodiesel dari Minyak Ikan

Kecenderungan konsumsi minyak bumi kini kian meningkat, dan ini sejalan dengan penurunan ketersediaan minyak bumi yang ada di dunia. Bahkan, selama seabad terakhir konsumsi energi di seluruh dunia menunjukkan peningkatan 20 kali lipat dan diperkirakan terus meningkat. Oleh sebab itu, pengembangan bahan bakar alternatif menjadi sangat penting, khususnya biodiesel.

Biodiesel merupakan mono alkil ester dari asam lemak rantai panjang yang berasal dari minyak nabati ataupun lemak hewan. Berbagai sumber bahan baku minyak telah banyak diteliti dan dimanfaatkan, antara lain berasal dari kedelai, kanola, biji bunga matahari, biji monster, dan lemak hewani seperti minyak ikan. Faktor ekonomis merupakan aspek utama dalam pembuatan biodiesel. Biodiesel dapat diakses bila harga sebanding dengan harga bahan bakar diesel di pasaran, meskipun disinyalir ramah lingkungan.

Kebutuhan biodiesel yang terus meningkat membutuhkan penelitian lebih lanjut. Hal ini menjadi salah satu alasan Rastamauli Jabal R Harahap, mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian yang berjudul “Produksi Biodiesel dari Minyak Ikan Kasar melalui Dua Tahap Transesterifikasi”. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan dan menentukan karakteristik biodiesel dari minyak ikan kasar melalui dua tahap transesterifikasi. Mauli menggunakan minyak ikan hasil samping (limbah) pengalengan lemuru di salah satu perusahaan pengalengan ikan yang ada di Pekalongan, Jawa Tengah.

Transesterifikasi merupakan metode yang umum digunakan karena menghasilkan rendemen yang tinggi dan konsumsi energi yang rendah. Transesterifikasi biasanya dilakukan dengan menggunakan katalis basa dan asam. Katalis basa menghasilkan biodiesel dengan tingkat kemurnian yang tinggi, rendemen yang tinggi dan waktu reaksi yang singkat.

Pada transesterifikasi pertama, Mauli menggunakan katalis basa metanol dan katalis asam H2SO4. Minyak ikan kasar tadi berubah menjadi minyak ikan yang memiliki kadar metil ester. Setelah itu, minyak ikan mengalami transesterifikasi kedua menggunakan katalis asam basa dan katalis basa NaOH yang menghasilkan biodiesel dan gliserol.

Berdasarkan aspek produksi, untuk mendapatkan biodiesel yang ekonomis dapat juga digunakan bahan baku dengan kualitas yang rendah yaitu dengan menggunakan katalis asam. Kombinasi reaksi dua tahap atau transesterifikasi dua tahap ini ternyata dapat digunakan untuk mereduksi waktu reaksi dan asam lemak bebas.

Penelitian Mauli pun mendapatkan hasil yang sangat memuaskan, dimana berdasarkan hasil penelitiannya, proses transesterifikasi dua tahap ini mampu menghasilkan biodiesel yang sesuai dengan standar SNI No. 7182 2012. (SM)  

Download PDF : Mahasiswa IPB Hasilkan Biodiesel dari Minyak Ikan