Mahasiswa IPB Ciptakan Wayang Qudo, Sarana Edukasi Masa Kini

Tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mengatakan “Guru adalah seorang pejuang tulus tanpa tanda jasa mencerdaskan bangsa”. Kalimat motivasi tersebut menggambarkan sosok pendidik yang memiliki peran sangat penting di balik memberikan sumbangsih terhadap tingkat intelektual seorang anak. Selain memberikan materi ajaran, seorang guru pun membantu seorang anak dalam membentuk karakter yang baik sehingga dapat diterima di masyarakat luas.

Sejumlah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang memiliki tingkat kepedulian tinggi terhadap pendidikan anak-anak Indonesia mengembangkan metode pengajaran tiga arah dimana anak-anak turut serta dalam proses pengajaran. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) 2017 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan (Kemenristekdikti) Republik Indonesia, mereka membentuk metode pengajaran yang diiringi dengan kesenian asli Indonesia.

Wayang Qudo (Quran in Shadow) merupakan sarana edukasi yang digunakan oleh tim PKM ini dalam menyampaikan materi pendidikan agama Islam. Wayang Qudo merupakan sebuah wayang kulit yang telah dilengkapi dengan proyektornya sehingga memudahkan pengangkutan alat ke tempat lain. Wayang kulit yang berbahan dasar kertas asturo dibuat beragam desain sesuai dengan tema materi yang akan disampaikan. Selain itu juga diberikan pula buku panduan bagi anak-anak yang berisikan materi pengajaran secara lengkap beserta dengan soal-soal untuk sebagai sarana pelatihan materi bagi anak-anak.

Metode pengajaran yang menyerap metode story telling (pemberian cerita) ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Situleutik yang terletak di Desa Situleutik RT 02 RW 06 Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Lokasi SDN Situleutik tidak begitu jauh dari IPB, kurang lebih berkisar lima kilometer. Kondisi SDN Situleutik kurang begitu memadai layaknya SDN lainnya. Jalan menuju sekolah cukup kecil dan sulit untuk dijangkau.

Sekolah yang memiliki akreditas B ini memiliki lahan seluas 777 meter persegi, dimana hanya memiliki lima ruang kelas sehingga jam belajar terbagi menjadi kelas pagi dan siang. Sarana belajar  seperti laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan komputer belum tersedia, sehingga diharapkan dengan diberikannya Wayang Qudo dapat menambah jumalah sarana belajar di sekolah ini.

Program Wayang Qudo ini merupakan metode belajar yang melibatkan anak-anak kelas 5 sebanyak 34 orang dalam proses belajar dan mengajar. Setelah anak-anak SDN Situleutik memperoleh berbagai macam materi mengenai pendidikan agama Islam (PAI) yang diberikan oleh mahasiswa IPB, anak-anak secara berkelompok dilatih untuk membuat sendiri wayang mereka dimana pada akhir pengajaran setiap kelompok akan mementaskan wayang mereka sendiri. Kegiatan ini dilakukan setiap seminggu sekali dimana semua kegiatan pun didampingi oleh guru PAI SDN Situleutik.

Harapan dari sekelompok mahasiswa yang terdiri atas Muhammad Hasanal Haqq, Mohammad Tajuddin, Maulidia Nurul Fathkhiyatut Taufiqoh, Alfi Khafidatun Nisa, dan Irvan Zidni ini berharap bahwa metode pengajaran seperti ini selain dapat menumbuhkan rasa cinta dan kreativitas anak-anak terhadap kesenian asli Indonesia, anak-anak pun dapat belajar sambil bermain dimana memperoleh pengalaman untuk berbagi ilmu dengan para pengajar dan teman-teman sekelasnya. Sehingga penerapan belajar tiga arah pun dapat terlaksana dengan asik dan menyenangkan. (GG/NM)

 

CP Muhammad Hasanal Haqq/ Hp 085869866286

Download PDF : Mahasiswa IPB Ciptakan Wayang Qudo, Sarana Edukasi Masa Kini