Mahasiswa IPB : Lumpur Sidoarjo untuk Energi Listrik

Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa listrik?  Berdasarkan laporan CNN Indonesia, PT PLN mencatat penjualan listrik sebesar 17,57 Terra Watt Hour (TWh) di sepanjang Januari 2016, dan meningkat 7,54 % dibandingkan penjualan listrik tahun lalu. Hampir 20 persen desa-desa di perbatasan belum terjangkau sinyal seluler. Sedangkan 45 persen lebih masih membutuhkan akses terhadap sumber energi listrik. Hal ini menunjukkan inovasi untuk menghasilkan energi listrik perlu ditingkatkan. Salah satu inovasi yang dapat menjadi solusi bagi kurangnya energi listrik di Indonesia yakni melalui pemanfaatan lumpur Sidoarjo.

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar kata Sidoarjo? Lumpur? Penelitian terbaru menyatakan bahwa Bacillus pada lumpur di Sidoarjo memiliki kemampuan dalam mereduksi logam. Hal ini karena bakteri bacillus memilki kemampuan sebagai phenol degrader (termasuk senyawa hidrokarbon yang menghasilkan minyak bumi) dan heavy metal accumulation (mereduksi logam).

Penelitian lain juga membuktikan bahwa konsorsium mikrob pada limbah cair terasi udang, teridentifikasi 98% kelompok Bacillus sp terbukti mampu mengkonversi limbah organik pada limbah menjadi energi listrik pada sistem MFC. Apa itu MFC? MFC merupakan salah satu dari fuel cell berbasis biologi. Teknologi MFC merupakan pendekatan baru pembangkit tenaga listrik. MFC merupakan sistem bioelektrokimia yang dapat membangkitkan listrik dari oksidasi substrat organik dan anorganik dengan bantuan katalisis mikroorganisme Di antara pilihan teknologi pembangkit energi listrik, sistem MFC memiliki nilai efesiensi konversi mendekati 100%. Jadi, penggunaan MFC ini dinilai menguntungkan, karena nilai efesiensi konversinya merupakan yang tertinggi di antara sistem pengkonversi biomassa lainnya.

Adanya teknologi MFC yang terbukti mampu mengkonversi senyawa logam dengan bantuan bakteri menjadi energi listrik, menimbulkan suatu gagasan sebagai solusi alternatif penyelesaian masalah lumpur di Sidoarjo melalui pemanfaatan aktivitas konsorsium bakteri, logam berat, dan gas metan pada lumpur sebagai sumber energi baru yang direalisasikan melalui pembangkit listrik ramah lingkungan. Gagasan ini sekaligus solusi terhadap ancaman krisis energi yang melanda Indonesia.

Bagaimana prinsip kerja dari MFC? Pertama, tempatkan dua elektroda yang saling terhubung, yaitu anoda (tanggul di Sidoarjo) yang mengandung sedimen bersifat anaerobik dan katoda (air sungai Porong) yang mengandung oksigen terlarut. Rangkaian alat MFC dirangkai secara seri yang hasil energi listriknya disimpan dalam kapasitor. Energi yang tersimpan dalam kapasitor itulah yang akan dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif. Gagasan pemanfaatan lumpur Sidoarjo sebagai pembangkit listrik ini digagas oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Muhammad Iqbal Akbar M, Puji Astuti, dan Dian Rahmawati. Dengan demikian, bencana lumpur Sidoarjo dapat dijadikan solusi untuk menjawab kekurangan energi listrik di Indonesia.(SM)

 

Download PDF : Mahasiswa IPB : Lumpur Sidoarjo untuk Energi Listrik