Mahasiswa IPB Manfaatkan Sorgum untuk Bioplastik

Produk plastik sering digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakannya sebagai kantong plastik yang mudah dibawa kemanapun. Plastik merupakan kemasan yang berasal dari polimer petrokimia sangat popular digunakan karena memiliki beberapa keunggulan yaitu fleksibel, transparan, tidak mudah pecah, murah, dan tidak korosif. Namun, selain memiliki keunggulan, plastik memiliki kelemahan yaitu tidak tahan terhadap panas dan dapat mencemari produk dengan migrasi komponen monomernya, sehingga berdampak pada keamanan dan kesehatan konsumen. Penggunaan plastik yang terus-menerus akan menyebabkan timbulnya pencemaran lingkungan dikarenakan sifatnya yang tidak mudah hancur oleh mikroorganisme. Kantong plastik baru bisa terurai di alam dalam waktu 500-1000 tahun, sehingga apabila dibiarkan di tanah akan merusak lingkungan, menghambat peresapan air, menyebabkan banjir, dan merusak kesuburan tanah.

 

Saat ini, gerakan untuk mengurangi penggunaan plastik sangatlah massif. Muncul pula inovasi bioplastik sebagai plastik yang ramah lingkungan. Bioplastik berkembang dengan sangat pesat sebagai solusi mengatasi masalah permasalahan plastik konvensional yang tidak mudah terurai. Bioplastik merupakan jenis plastik yang dapat digunakan seperti halnya plastik konvensional, tetapi mudah terurai secara alami di tanah oleh mikroorganisme atau dekomposer. Berbagai riset mengenai bioplastik telah dilakukan di negara maju seperti Jerman, Prancis, Jepang, Korea, Amerika Serikat, Inggris dan Swiss. Bioplastik dapat dikembangkan dengan memanfatkan sumber daya alam terbarukan dan dapat terdegradasi. Bahan baku bioplastik berasal dari senyawa-senyawa tanaman seperti pati, selulosa, dan lignin serta bahan-bahan dari hewan seperti protein, kasein, dan lipid.

 

Salah satu terobosan bioplastik tercetus dari lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Noor Intan Ayuningtyas, Sumaya Yulia Putri, Fathianissa Agnifa H, Minati Mella Silvana, dan Ahmad Khairul Reza. Lima mahasiswa ini menggunakan ekstrak protein biji sorgum sebagai bahan bioplastik. Sorgum merupakan salah satu jenis tanaman serelia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Tanaman sorgum toleran terhadap kekeringan dan genangan air serta relatif tahan terhadap gangguan hama. Saat ini, sorgum belum dimanfaatkan secara maksimal. Pemanfaatan sorgum sejauh ini hanya sebagai pakan ternak. Padahal kandungan protein sorgum merupakan paling tinggi diantara jagung, kentang dan umbi-umbian lainnya.

 

Untuk peningkatan nilai ekonomis sorgum maka dilakukan penelitian pembuatan bioplastik dari protein sorgum. Sintesis bioplastik memerluan bahan pendukung tambahan lainnya seperti plasticizer dan biopolimer untuk perbaikan sifat fisik, sifat mekanik, dan penyerapan bioplastik terhadap air. Sifat fisik dan mekanik bioplastik menjadi lebih baik dengan penambahan plasticizer gliserol sehingga dapat menyerupai sifat fisik dan kimia plastik konvensional. Namun, diperlukan tambahan lainnya seperti penambahan karagenan dari ekstraksi residu rumput laut Euchema cottoni. Penelitian mengenai bioplastik dengan zat pati sorgum menghasilkan film bioplastik yang memiliki ukuran mikro dan masih kurangnya kehomogenan larutan bioplastik. Oleh karena itu, peneliti membuat inovasi dengan memanfaatkan protein dari limbah sorgum dan penambahan nanopartikel karagenan guna meningkatkan sifat fisik dan mekanik bioplastik. (KHO/ris)

 

CP Intan / HP 0858-7147-0493

Download PDF : Mahasiswa IPB Manfaatkan Sorgum untuk Bioplastik