Mahasiswa IPB Deteksi Terumbu Karang dengan Metode Akustik

Teknologi akustik merupakan teknologi yang memanfaatkan hambur balik gelombang suara. Deteksi bawah air menggunakan akustik saat ini sedang banyak dimanfaatkan karena mudah dalam penggunaan serta terhindar dari berbagai risiko dibandingkan dengan metode lain seperti penyelaman. Selama ini deteksi karang dilakukan dengan penyelaman langsung.

Namun resiko yang dihadapi sangat besar seperti cuaca yang dapat berubah dengan cepat, mengalami hypothemia, penyakit dekompresi dan lain-lain. Penyelaman juga membutuhkan keahlian dan sertifikasi khusus sehingga tidak banyak orang yang bisa melakukannya.

Alasan inilah yang mendorong Danar Jovian Pratama, Haris Hadi Kusuma, Aulia Yogi Pangesti, Haris Aprianto Setiawan, dan Tsabitah Shofiyana, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian terkait penggunaan teknik akustik terhadap karakterisasi terumbu karang di bawah laut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keefektifan dari penggunaan instrumen single beam echosounder Simrad EK15 untuk menganalisis dan membandingkan nilai hambur balik akustik terumbu karang, serta memberikan solusi alternatif karakterisasi terumbu karang secara cepat dan aman.

Deteksi bawah air dengan teknik akustik atau yang dikenal sebagai hidroakustik merupakan teknologi deteksi bawah air yang menggunakan gelombang suara untuk melakukan pendeteksian. Metode akustik kelautan merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan perambatan suara, karakteristik suara, faktor lingkungan dan kondisi target.

Deteksi bawah air dalam penelitian akustik dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu single beam, dual biem, split beam, dan multi beam. Indonesia dan beberapa negara lainnya banyak menggunakan teknik single beam untuk mendeteksi bawah air, hal ini terjadi karena teknik akustik single beam relatif memiliki harga yang lebih murah dibandingkan teknik akustik yang lain.

Salah satu pendeteksi bawah air menggunakan teknik akustik single beam  adalah scientific echosounder Simrak EK 15. Alat ini menggunakan frekuensi 200 kHz dan circular beam 31o.

Echoview merupakan salah satu perangkat lunak pengolahan data dari echosounder dan sonar. Echoview menggunakan teknik pelacakan ikan yang disebut alpha-algoritme beta-tracking. Sedangkan Simrad merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk tujuan penelitian dan pengolahan data echosounder. Simrad EK15 menggunakan single beam frekuensi untuk sounding. Scattering yang berasal dari dasar laut maupun permukaan laut dapat dikuantifikasi dari nilai scattering strength, sedangkan pada sistem sonar monostatik, gelombang akustik yang dipantulkan kembali ke arah pemancar disebut dengan backscattering strength.

“Perbandingan antara kekuatan pemantulan intensitas suara dengan nilai intensitas suara yang diterima ketika mengenai permukaan dasar perairan disebut dengan surface backscattering strength (SS). Nilai tersebut didapatkan dari nilai puncak sinyal suara pada hambur balik pertama permukaan dasar perairan dibagi dengan ketebalan objek dasar perairan yang mampu ditembus,” ujar Danar.(KHO/Zul)

CP Danar / HP 0812-8294-3546

Download PDF : Mahasiswa IPB Deteksi Terumbu Karang dengan Metode Akustik