Mahasiswa IPB : Cegah Kandungan Iodium Turun, Tambahkan Garam Saat Masakan Hampir Matang

Iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh karena merupakan komponen dari hormon tiroid, yaitu tetraiodotironin atau tiroksin dan triiodotironin yang berfungsi untuk mengatur suhu tubuh, pertumbuhan dan perkembangan sistem saraf serta fungsi neuromuskular. Defisiensi iodium dapat menyebabkan gangguan tubuh dalam memenuhi fungsi hormon tiroksin dan dapat menyebabkan penurunan potensi kecerdasan.

Kejadian gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) pada anak usia sekolah menyebabkan penurunan prestasi belajar anak. Untuk menjalankan fungsinya, iodium diperlukan tubuh dalam jumlah yang sangat kecil, yaitu hanya 90-150 µg/hari. Meskipun demikian, pemenuhan iodium dari bahan pangan relatif sulit untuk dipenuhi.

Pemerintah memang sudah mengupayakan penanggulangan masalah GAKI, namun data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa baru 62,3% rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium dalam jumlah mencukupi. Defisiensi iodium banyak terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, terutama di daerah pegunungan, yang jauh dari lokasi sumber pangan iodium, yaitu pangan laut. Selain itu, asupan iodium dapat terhambat dengan keberadaan pangan goitrogenik (kol dan singkong) yang mudah tumbuh dan banyak ditemukan di wilayah di pegunungan.

Di bawah bimbingan Inke Indah Permatasari, Ali Khomsan, Hadi Riyadi, Tin Herawati, Reisi Nurdiani, staf pengajar di Departemen Gizi Masyarakat, dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia (Fema), mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Leily Amalia menganalisis tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik gizi ibu terkait iodium, serta pola konsumsi pangan sumber iodium dan penggunaan garam beriodium pada ibu rumah tangga di wilayah pegunungan Cianjur.

“Dari data Riskesdas, cakupan garam cukup iodium rumah tangga di Kabupaten Cianjur hanya mencapai 47,2%, lebih rendah dari cakupan nasional yang mencapai 62,3%,” ujar Laily.

Rata-rata pengetahuan gizi subjek termasuk dalam kategori sedang (rata-rata skor pengetahuan gizi 64,2). Kurang dari 30% subjek yang termasuk dalam kategori pengetahuan gizi yang baik. Namun hasil ini lebih rendah dibandingkan di Temanggung tetapi lebih baik jika dibandingkan dengan Ponorogo.

Subjek lebih mementingkan unsur kenyamanan dalam penggunaan garam, yaitu mengharapkan garam yang terasa asin (91,3%) dan harga garam beriodium yang dirasa terlalu mahal (85,2%).

“Ibu-ibu  sebenarnya menyadari kepentingan garam beriodium bagi kesehatan, tetapi faktor rasa dan harga masih menjadi faktor penghambat yang cukup besar. Harga garam beriodium yang relatif lebih mahal dibandingkan garam tanpa iodium dianggap masih memberatkan. Hal ini bisa dipahami karena 73,2% subjek dalam penelitian ini tergolong miskin. Ini menunjukkan bahwa keinginan untuk memilih garam beriodium dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Rata-rata mereka menganggap telur sebagai sumber iodium dan tidak mengetahui ikan laut merupakan pangan kaya iodium dan garam krosok lebih baik daripada garam beriodium.  Selain itu, mereka juga tidak menerapkan praktek gizi dengan benar dalam hal pemilihan pangan sumber iodium, penggunaan garam beriodium saat memasak, dan tidak melakukan pembatasan konsumsi singkong dan kol.

“Praktik gizi kurang juga ditunjukkan dalam penggunaan garam beriodium sebagai bumbu dapur yang sebaiknya ditambahkan setelah makanan hampir matang. Sifat iodium yang memiliki titik didih cukup rendah (1840C) menjadikan iodium rentan hilang jika ditambahkan di awal dan mengalami proses pemanasan lebih lama,” terangnya.(zul)

 

Download PDF : Mahasiswa IPB : Cegah Kandungan Iodium Turun, Tambahkan Garam Saat Masakan Hampir Matang