Guru Besar IPB : Biaya Produksi Beras di Indonesia Tertinggi

Biaya produksi beras per kilogram di Indonesia mencapai 0,369 dolar, paling tinggi diantara lima negara produsen beras (China, Thailand, Philipina, Vietnam dan India). China hanya menghabiskan 0,331 dolar AS diikuti Philipina 0,292 dolar, kemudian India 0,209 dolar serta Thailand 0,208 dolar dan terendah Vietnam 0,154 dolar. Tingginya biaya produksi ini memperkecil kemungkinan Indonesia untuk ekspor beras (medium).

“Selama ini yang berhasil kita ekspor adalah beras organik atau beras premium. Sedangkan untuk beras medium kemungkinannya kecil karena tingginya biaya produksi. Produktivitas Indonesia nomor tiga setelah Vietnam dan China. Vietnam memiliki biaya produksi paling rendah, itulah kenapa mereka bisa ekspor berasnya,” ujar Prof. Dr. Ir. Rina Nurmalina, MS, Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB) saat jumpa pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (18/5).

Dikatakannya, efisiensi usaha tani di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan negara produsen padi lainnya. Upaya peningkatannya yakni dengan meningkatkan produktivitas atau mengurangi input-input produksi yang berlebih.

Biaya tinggi ini sebagian besar disumbang dari tingginya biaya tenaga kerja (apalagi saat panen) dan sewa lahan. Negara lain sudah bisa menekan biaya tenaga kerja karena menggunakan mesin, terutama saat panen. Indonesia belum bisa karena ada budaya gotong-royong dan luasan lahan yang terkotak-kotak.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh PSEKP, pendapatan usaha tani padi di Indonesia (di berbagai daerah, berbagai jenis luas lahan, berbagai jenis padi dan berbagai jenis pengelolaan) masih positif atau menguntungkan dengan R/C berkisar antara 2.35-2.65.

Namun penyediaan beras untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih menghadapi berbagai masalah. Misalnya konversi lahan sawah di Pulau Jawa, pertumbuhan produksi dan produktivitas padi yang melambat dan keterbatasan sumberdaya manusia. Selain itu, kepemilikan lahan yang sempit, kurang dari 0,5 hektar; lebih dari 70 persen petani di Indonesia memiliki pendidikan rendah, lulusan SD atau tidak lulus SD; 92,85 persen petani memiliki modal rendah; kurangnya penyuluh; dan yang paling krusial 44,01 persen petani di Indonesia termasuk generasi tua, berusia di atas 50 tahun.

Untuk itu, terangnya, ada beberapa usulan kebijakan yang bisa diterapkan oleh pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan. Pertama, peningkatan efisiensi dan daya saing produksi padi (varietas unggul, teknologi tepat guna dan penggunaan mesin pertanian). Kedua, peningkatan produksi melalu perluasan areal tanam, pengendalian konversi lahan dan peningkatan investasi (infrastruktur). Ketiga, pemberdayaan kelembagaan pemerintah dan petani. Keempat, peningkatan keuntungan melalui efisiensi penggilingan padi dan rendemen beras melalui peremajaan dan investasi mesin penggiling. Kelima, penguatan sistem logistik, perbaikan distribusi dan pemasaran hasil. Keenam, perbaikan kualitas manajemen kelembagaan data dan sistem informasi.(zul)

 

Download PDF : Guru Besar IPB : Biaya Produksi Beras di Indonesia Tertinggi