Guru Besar IPB : Budidaya Udang dengan Teknologi Bioseal, Dua Tahun Balik Modal

Sumberdaya perairan secara umum dapat diklasifikasikan menjadi sumberdaya perairan terbuka, seperti danau, waduk, sungai, perairan pesisir, serta perairan terbuka inshore dan offshore; dan perairan tertutup, seperti kolam air tenang dan air deras serta tambak di kawasan pesisir. Perairan terbuka biasanya bersifat preventif, sedangkan pada pengelolaan perairan tertutup tujuannya mengendalikan kestabilan ekosistem perairan.

“Dalam pengelolaan sumberdaya perairan tertutup, kita bisa menaikkan daya dukung perairan dan kemampuan fasilitas pendukungnya seperti energi listrik. Yang paling utama adalah unsur oksigen,” ujar Prof. Dr. Ir. Kadarwan Soewardi, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam jumpa pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (18/5).

Selain kandungan oksigen, pengelolaan limbah bahan organik dari kelebihan pakan dan feses juga perlu diperhatikan. Oleh karena itu, Prof. Kadarwan menciptakan desain tambak dengan central drain. Central drain adalah suatu sistem yang memudahkan pembuangan limbah tanpa mengganggu kestabilan air serta memudahkan pengelolaan airnya karena dindingnya dilapisi dengan campuran bambu, ijuk dan plastik (dinding tersebut dinamakan biocrete). Teknologi ini biasanya diterapkan untuk lahan pasir.

“Teknologi ini kemudian kami sempurnakan lagi menjadi Bioseal dengan dinding dari plastik HDPE. Teknologi ini khusus untuk lahan tanah atau tanah berpasir dengan komposisi pasirnya sedikit dan dengan area yang luas,” ujarnya.

Biaya membangun tambak udang dengan teknologi ini di lahan seluas satu hektar membutuhkan dana sebesar satu milyar rupiah (2016) ditambah biaya sewa lahan sebesar 400 juta rupiah. Jika panennya berhasil, maka keuntungan yang didapat dari satu ton udang adalah 47 juta rupiah. Dalam luasan satu hektar diperkirakan akan menghasilkan 25 ton udang atau keuntungan sebesar 1,17 milyar rupiah.

“Saya perkirakan dalam dua tahun akan balik modal. Tapi dalam budidaya udang, perlu diperhatikan teknologi yang digunakan, sumberdaya manusia yang unggul dan lokasi yang sesuai,” terangnya.

Teknologi ini sudah diterapkan di Ujung Genteng, Seram Utara, Pantai Selatan Yogyakarta, daerah Sumur Pandeglang, bahkan hingga Malaysia (Pulau Gula dan Desa Selingsing).  Hingga saat ini, teknologi tersebut masih digunakan bahkan berkembang dengan baik dan berkelanjutan.

“Untuk lokasi yang baik (tidak tercemar airnya) dan elevasi (kemiringan lahan) cukup, tingkat keberhasilannya mencapai 80-90 persen dengan tingkat produksi mencapai 30 ton per hektar,” tandasnya.(zul)

Download PDF : Guru Besar IPB : Budidaya Udang dengan Teknologi Bioseal, Dua Tahun Balik Modal