Guru Besar IPB : Konsumsi Tempe Sejak Menarche Cegah Kanker Payudara

Proses fermentasi kedelai menjadi tempe adalah salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang harus dibanggakan dan dilestarikan. Berdasarkan catatan sejarah, tempe telah dikenal di Indonesia sejak abad ke-16. Tempe terbukti mengandung zat gizi dan non gizi yang sangat bermanfaat bagi pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan manusia, diantaranya meningkatkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah kanker payudara.

Hal ini disampaikan pakar tempe Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr.Ir. Made Astawan, MS, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) dalam jumpa pers pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (6/4).

Dikatakannya, dalam 100 gram tempe ada kandungan protein sebesar 16 gram yang mampu meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh, sehingga tidak mudah terkena penyakit. “Sistem imun yang baik mencegah kita terkena penyakit yang menular atau tidak menular. Dalam salah satu riset kami, mengkonsumsi tempe dan olahannya terus-menerus sejak menarche (haid pertama) mampu mencegah terkena kanker payudara,” ujarnya.

Diantara berbagai pangan tradisional Indonesia, hanya tempe yang telah memiliki bukti ilmiah terbanyak terkait khasiatnya. Tempe mengandung komponen fungsional berupa vitamin, mineral, asam lemak tidak jenuh, peptida dan asam amino, serat pangan, prebiotik, probiotik, isoflavon, fitosterol dan lain-lain.

Jumlah pengrajin tempe di Indonesia mencapai lebih dari 100 ribu unit yang tersebar di 18 provinsi dan 177 kabupaten/kota. Sebagian besar produsen merupakan usaha mikro, kecil dan menengah yang menggunakan rumah sebagai tempat produksinya.

“Saat ini tempe tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di 27 negara lain di dunia. Namun sayang, proses pembuatan tempe di Indonesia masih banyak yang kurang higienis sehingga tidak sesuai dengan persyaratan mutu nasional dan regional Asia. Lebih dari 99 persen pengrajin tempe yang produknya belum memenuhi persyaratan mutu,” terangnya.

Perlu ada pembinaan agar proses produksinya dilakukan secara benar sesuai ketentuan Good Manufacturing Practices (GMP). Proses produksi tempe secara higienis akan menghasilkan produk sesuai standar sehingga siap berkompetensi di tingkat nasional, regional dan internasional.

Oleh karena itu, dalam materi orasi-nya yang berjudul “Tempe Sebagai Warisan Budaya dan Pangan Fungsional Persembahan dari Indonesia untuk Dunia”, Prof. Made mengusulkan tujuh strategi menciptakan industri tempe yang tangguh yakni peningkatan produksi kedelai nasional, pemenuhan persyaratan mutu tempe nasional dan internasional, perbaikan proses pembuatan tempe di tingkat pengrajin, penganekaragaman produk olahan tempe berorientasi ekspor, pengkajian ilmiah khasiat tempe untuk kesehatan, peningkatan inovasi dan citra tempe di tingkat internasional serta perbaikan atas mispersepsi terhadap tempe.(zul)

 

 

Download PDF : Guru Besar IPB : Konsumsi Tempe Sejak Menarche Cegah Kanker Payudara