Guru Besar IPB : Teknologi Sambungan Kayu Berkembang Pesat

Untuk memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, pemerintah pada tahun 2017 (skema KPR) merencanakan membangun satu juta unit rumah. Dengan asumsi bahwa kebutuhan kayu bangunan rata-rata 0,75-1,00 meter kubik per rumah, maka dibutuhkan sekitar 750.000-1.000.000 meter kubik kayu gergajian dan komposit setiap tahunnya.

 “Kini pemerintah dan masyarakat sudah mulai melirik konstruksi kayu dalam membangun rumahnya. Teknologi sambungan di kayu sudah berkembang luar biasa karena ada ilmu keteknikan atau rekayasa. Keteknikan merupakan rangkaian pemanfaatan teknologi yang efisien dan optimal,” ujar Prof. Dr. Ir. Sucahyo Sadiyo, MS,  Guru Besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam jumpa pers Pra Orasi Ilmiah di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (18/5).

Analisis dan desain sambungan kayu yang tepat dan akurat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan mutlak diperhitungkan pada perencanaan bangunan konstruksi struktural modern. Hasil penelitian Prof. Sucahyo, desain sambungan kayu (dalam kurun waktu 10 tahun terakhir) menyimpulkan bahwa nilai desain sambungan paku majemuk geser ganda balok kayu dengan pelat baja  adalah dengan pendekatan empiris-batas proporsional, direkomendasikan 1.2 mm. Ini yang paling realistis untuk kayu tropis Indonesia.

“Tersusunnya tabel kelas mutu sambungan geser ganda balok kayu dengan paku dan atau baut berpelat sisi baja, dapat dijadikan dasar pada praktik konstruksi kayu di lapangan,” ujarnya.(zul)

Download PDF : Guru Besar IPB : Teknologi Sambungan Kayu Berkembang Pesat