Guru Besar IPB : Charcoal Bambu Indonesia Setara Korea dan China

Tahun ini, hari Hutan Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Maret mengusung tema energi. Maka untuk memperingati hari Hutan Internasional, tiga Guru Besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan hasil pemikirannya di hadapan pers, Senin (20/3) kemarin di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang, Bogor.

Temu pers menghadirkan Prof. Dr. Herry Purnomo (Departemen Manajemen Hutan), Prof. Dr. Fauzi Febrianto (Departemen Hasil Hutan) dan Prof. Dr. Ani Mardiastuti (Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata).

Kondisi hutan saat ini sudah berubah dari hutan alam menjadi hutan tanam. Ijin usaha yang diberikan untuk memanfaatkan hasil hutan, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHK-HA) menurun drastis untuk hutan alam. Fenomena ini wajar dan akan terus turun setiap tahunnya. Dan produksi Log Indonesia sudah tidak lagi berupa kayu-kayu besar.

“Maka industri yang cocok dikembangkan saat ini adalah industri kayu komposit, industri pulp dan kertas, industri kimia dan energi serta biomassa,” ucap Prof. Fauzi.

Dalam kesempatan ini ada dua komoditas yang dipaparkan Prof. Fauzi yakni kayu juvenile (kayu usia muda) dan bambu. Sejak tahun 2013, bambu masuk sebagai komoditas kehutanan. Ada kelompok tertentu yang fokus ke komoditas bambu.

“Bambu adalah sumber biomassa yang besar. Tanam satu kali, bisa panen seumur hidup. Dari hasil penelitian ada tujuh jenis bambu yang bisa dikembangkan menjadi charcoal (arang) high quality yakni Betung, Andong, Ampel, Hitam, Kuning, Sembilang dan Tali. Di Jawa Barat, ketujuh jenis bambu ini dominan hampir semua jenis,” ujarnya.

Arang bambu Hitam dan Ampel ternyata memiliki kualitas terbaik dan setara dengan bambu Mosu yang tumbuh di China dan Korea. Arang bambu ini selain digunakan untuk bahan bakar, bisa juga dimanfaatkan sebagai sabun, shampo, scrub, absurb fat and oil.

“Di Jepang dan Korea, arang bambu ini sudah banyak dimanfaatkan untuk kosmetik dan kesehatan. Harapannya, Indonesia juga mulai mengarah ke sana. Saat ini dengan teknologi sederhana, bambu hanya dimanfaatkan sebagai pakan hewan, norit activated ataupun arang (bahan bakar). Padahal jika mau menggunakan teknologi, bambu bisa diubah menjadi nano carbon, activated charcoal fuel dan lain-lain,” terangnya.

Sementara, untuk biomassa dari kayu, Prof. Fauzi menawarkan biomassa dari kayu juvenil (kayu muda). Menurutnya, kayu muda memiliki energi “heat” yang cukup bagus sehingga punya prospek untuk dikembangkan.

“Dari penelitian terhadap 30 jenis kayu cepat tumbuh, beberapa hal ada yang matching dengan standar internasional. Bicara biomassa, deposit inorganik meter penting diperhatikan karena kalau nilai deposit inorganik meternya tinggi bisa menyebabkan korosi. Nah, kayu juvenil memiliki nilai deposit yang masih rendah sehingga layak dipertimbangkan,” ujarnya (zul)

 

Download PDF : Guru Besar IPB : Charcoal Bambu Indonesia Setara Korea dan China