Guru Besar IPB : Deforestasi Masih Terjadi Tapi Melambat

Tahun ini, hari Hutan Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Maret mengusung tema energi. Maka untuk memperingati hari Hutan Internasional, tiga Guru Besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan hasil pemikirannya di hadapan pers, Senin (20/3) kemarin di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang, Bogor.

Temu pers menghadirkan narasumber Prof. Dr. Herry Purnomo (Departemen Manajemen Hutan), Prof. Dr. Fauzi Febrianto (Departemen Hasil Hutan) dan Prof. Dr. Ani Mardiastuti (Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata).

Dalam paparannya yang berjudul “Multi-Fungsi Hutan untuk Ketahanan Pangan, Energi dan Mitigasi Perubahan Iklim”, Prof. Herry Purnomo mengatakan dari 4 milyar hektar luas hutan dunia, 12 juta hektar hutan hilang (deforestasi). Untuk Indonesia, dari 136 juta hektar lahan hutan yang masih ada, 0,83 juta hektar mengalami deforestasi.

“Sampai detik ini degradasi dan deforestasi masih berjalan namun kecepatannya melambat. Net deforestasi tahun 2005 dunia sekitar 7,2 juta hektar per tahun, sekarang sekitar 4 juta hektar per tahun. Indonesia juga mengalami pelambatan. Dulu setelah reformasi, deforestasi mencapai 2,5 juta hektar, sekarang 0,83 juta hektar. Deforestasi terjadi di Sumatera, Kalimantan dan Papua, Jawa sudah mulai recovery. Slowdown deforestasi happening, namun harus dipercepat,” ujar staf pengajar di IPB dan peneliti di CIFOR ini.

Trade off antara penyedia pangan dan keberadaan hutan sering terjadi. Hutan dikonversi menjadi lahan penyedia pangan seperti padi, kedelai dan peternakan sapi atau kelapa sawit dalam konteks bio energi. Hutan menyediakan pangan dan nutrisi dalam bentuk buah-buahan, sayuran dan daging hewan bagi penduduk pedesaan.

Di Delta Mekong Vietnam, hampir 40% Vitamin A dan C perempuan dipenuhi dari hutan. Daging hewan diperoleh dari hutan daerah aliran sungai Kongo sebanyak 4,6 juta ton dan Amazon 1,12 ton setiap tahun.

“Hutan juga sebagai sumber pangan. Hutan menyumbang pangan, energi dan mitigasi adaptasi iklim. Kita harus mulai mengarusutamakan bahwa hutan adalah sarana mencegah bencana karena hutan memiliki kemampuan meningkatkan daya dukung lingkungan,” ujarnya.

Di sisi lain, sekitar 30 juta orang hidup di sekitar hutan, namun faktanya orang yang tinggal di dekat hutan adalah penduduk miskin. Harus ada terobosan dimana pengelolaan hutan memiliki nilai tambah dan distribusikan secara adil.

“Program baru yang digagas pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk sekitar hutan adalah pengelolaan 12,7 juta hektar lahan hutan untuk hutan sosial dan 9 juta hektar lahan hutan untuk reforma agraria. Terobosan ini diharapkan mampu mengubah nasib penduduk yang hidupnya bergantung pada hutan,” tandasnya.(zul)

Download PDF : Guru Besar IPB : Deforestasi Masih Terjadi Tapi Melambat