Guru Besar IPB : Embung Panjang, Solusi Efektif Atasi Banjir di Lahan Pertanian

Dalam rangka memperingati Hari Air sedunia (23 Maret), tiga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan hasil pemikirannya di hadapan insan pers, di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (20/3).

Temu media menghadirkan Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan (Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan), Prof. Dr. Ir. Hidayat Pawitan (Departemen Geofisika dan Meteorologi) dan Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin (Departemen Arsitektur Lanskap).

Setelah dilanda kekeringan panjang tahun 2015 (El-Nino) Indonesia, sejak awal 2016 dan berlanjut sampai saat ini, beberapa wilayah Indonesia mengalami kebanjiran (La-Nina) yang sulit diprediksi kapan berakhirnya. Jika kebanjiran di perkotaan pada umumnya terjadi relatif lebih singkat dan surut saat hujan berhenti, kebanjiran dan genangan air di lahan pertanian berlangsung lama dan lebih sulit ditanggulangi.

“Contohnya di Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Wilayah ini langganan banjir dan terparah. Areal terdampaknya mencapai lebih dari 500 hektar. Petani harus menanam padi berulang kali dengan harapan agar suatu saat selamat dari banjir dan berhasil panen. Tidak jarang ada yang sampai tujuh kali tanam ulang untuk mendapatkan satu kali panen,” terang Prof. Budi Indra Setiawan.

Padahal lokasi tersebut sudah dibangun embung panjang (long storage) pada tahun 2000 yang diberi nama Kali Malang (panjangnya lebih dari 7 km). Fungsi embung ini harusnya menampung kelebihan genangan air dari sawah-sawah di sekitarnya. Namun karena tidak terawat/dirawat maka terjadi pendangkalan.

“Awalnya kedalaman embung ini 2 meter tapi kini sekitar 70 centimeter. Semua pintu air rusak berat, eceng gondok tumbuh subur, sampah dan limbah rumah tangga bertumpuk di badan air. Sampai saat ini belum ada upaya untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya.

Solusinya adalah harus segera dilakukan normalisasi dengan mengeruk sedimen yang menghambat di muara sungai dan mencegah agar sedimentasi tidak mudah terjadi dengan membangun pengendali aliran lumpur. Lalu perlu dilakukan pengerukan sedimen, pembersihan sampah, eceng gondok dan perbaikan pintu air serta penyambungan segmen-segmen Kali Malang yang masih terpisah menggunakan sipon air yang melintasi bagian bawah badan sungai.

Konsep zero runoff system dapat digunakan dalam menentukan tata letak dan dimensi long storage yang optimal, yakni mampu menyerap dan menyimpan kelebihan genangan air yang tidak dikehendaki. Simpanan air ini dapat digunakan sebagai cadangan air (sumber air baku maupun air pertanian) pada musim kemarau.

“Perlu ada evaluasi rancangan embung, mengingat sejak selesai dibangunnya, embung ini tidak efektif mengatasi kebanjiran dan genangan air. Evaluasi harus dilakukan berdasarkan kondisi iklim dan hidrologis serta kondisi sosial masyarakat setempat. Simpanan air seperti embung dan long storage yang efektif harus dirancang sesuai kaidah hidrologis dan harus dirawat agar umur efektivitasnya semakin panjang,” ujarnya.

Ada beberapa embung dan long storage yang efektif mencegah banjir di lahan pertanian. Misalkan embung di Pamekasan, Madura, long storage di Indramayu dan long storage di Meranti Riau.

Embung berfungsi menampung air hujan atau limpasan permukaan (airnya dapat digunakan sebagai sumber air bersih). Banyak embung kini telah dilapisi lapisan kedap air (geo membrane) sehingga airnya lebih jernih dan lama tersimpan serta tahan longsor.

Long storage berfungsi menyimpan dan menyerap kelebihan genangan air (banjir) di lahan-lahan yang berada di sebelah atasnya. Bentuknya memanjang dan mengikuti searah kontur tanah. Selain sebagai cadangan air bersih, airnya juga bisa digunakan untuk irigasi.(zul)

Download PDF : Guru Besar IPB : Embung Panjang, Solusi Efektif Atasi Banjir di Lahan Pertanian