Guru Besar IPB : Obati Miasis dengan Limbah Perkebunan

Indonesia berpotensi dalam mengembangkan industri berbahan baku tanaman obat. Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) tidak pernah berhenti melakukan pengembangan dan penelitian standardisasi bahan baku dan obat jadi, pembuktian efek farmakologi dan penginformasian tingkat keamanan obat bahan alam.

Profesor bidang Farmasi Veteriner pertama di Indonesia berhasil mengembangkan obat miasis dari limbah. Ia adalah Prof. Dr. Dra. Ietje Wientarsih, Apt, M.Sc, Guru Besar Tetap FKH IPB. FKH IPB terus berupaya mengembangkan farmasi veteriner, salah satunya dengan memanfaatkan berbagai macam limbah perkebunan untuk menghasilkan obat miasis pada ternak.

Miasis adalah penyakit atau kelainan pada kulit yang disebabkan oleh infeksi larva lalat Chrysomya bezziana. Miasis atau belatungan pada induk semang dapat terjadi di berbagai lokasi.

Dalam risetnya, Prof. Ietje memanfaatkan limbah perkebunan seperti kulit durian, biji mimba dan kulit duku. Ketiga limbah ini mampu menghambat perkembangan larva lalat C. Bezziana.

“Aktivitas biolarvasida terbaik dari ketiga limbah perkebunan tersebut didapat pada ekstrak etanol biji mimba. Potensi biolarvasida biji mimba ditunjukkan dengan adanya kandungan Azadirachtin yang mampu menghambat proses metamorfosis larva lalat C, bezziana sebagai vektor penyebab miasis,” terangnya.

Untuk mengefektifkan pemberantasan miasis pada ternak, tim Prof. Ietje melakukan riset bentuk sediaan obat untuk memudahkan aplikasi oleh peternak secara mandiri. Prof. Ietje memanfaatkan ekstrak daun binahong dan sirih merah yang diubah menjadi krim dan salep.

Krim dan saleb ekstrak daun binahong dan sirih merah  mampu mengurangi terjadinya reaksi peradangan, mampu menurunkan infeksi sekunder pada luka miasis sehingga cocok diaplikasikan langsung kepada peternak di Indonesia.

Selain obat untuk mengatasi masalah miasis, Prof. Ietje juga memanfaatkan daun alpukat. Dari hasil riset, ektrak etanol daun alpukat terbukti mempunyai reaksi diuretik. Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin melalui kerja langsung terhadap ginjal.

Daya diuretikum ekstrak daun alpukat lebih kuat menghasilkan volume urin dibandingkan dengan diuretikum menggunakan furosemide. “Daun alpukat juga memiliki potensi dalam menghambat atau mencegah terbentuknya urolith (batu ginjal) di dalam sistem perkemihan,” ujarnya.(zul)

 

Download PDF : Guru Besar IPB : Obati Miasis dengan Limbah Perkebunan