Guru Besar IPB : Air Irigasi Bisa untuk Air Perkotaan

Dalam rangka memperingati Hari Air sedunia 22 Maret, tiga Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan hasil pemikirannya di hadapan insan pers, bertempat di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (20/3).

Temu media  menghadirkan Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan (Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan), Prof. Dr. Ir. Hidayat Pawitan (Departemen Geofisika dan Meteorologi) dan Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin (Departemen Arsitektur Lanskap).

Air sebagai “public good” adalah milik bersama yang dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh kita semua. Di muka bumi ini ada siklus hidrologi, dimana jumlah air akan selalu tetap dalam keseimbangannya. Jika ada satu wilayah yang kekeringan, berarti ada wilayah lainnya yang kelebihan air.

Dalam makalahnya yang berjudul Sinergi Penta-Helix dalam Mengusung Kota Ramah Air “Water Sensituve Cities”, Prof. Hadi Susilo Arifin mengatakan pengelolaan air adalah tanggung jawab bersama, yakni akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas dan media massa.

“Akademisi dengan diseminasi hasil riset-risetnya, pemerintah membuat aturan yang tegas dan menyediakan anggaran yang memadai, masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan air untuk menciptakan sense of belonging. Kerjasama yang sinergis ini perlu disebarluaskan oleh media massa. Karena masyarakat paling senang meniru keberhasilan pihak lain. Kesuksesan satu wilayah dalam mengelola air diharapkan menularkan spirit mengelola air lebih baik di wilayahnya,” ujarnya.

Untuk kawasan Bogor yang wilayah pertaniannya telah mengalami perubahan penggunaan dan penutupan lahan, maka transformasi perlu dilakukan. Air irigasi bisa dimanfaatkan sebagai air perkotaan, salah satunya untuk air minum.

“Pintu saluran irigasi Ciereng yang sudah tidak berfungsi bisa difungsikan menjadi jalan atau saluran air permukaan dan menjadikan air yang tersedia menjadi air untuk pemenuhan kebutuhan domestik Kota Bogor, Cibinong, Depok dan Jakarta. Pengelolaannya bisa di desain pada skala kelurahan yang dilintasi saluran irigasi. Investasi (instalansi PAM) yang diperlukan tidak akan sebesar pada instalansi skala kota,” terangnya.

Partisipasi masyarakat lainnya adalah menerapkan sistem bio-filtering pada skala kawasan. Air limbah rumah tangga dan air limpasan perlu mendapatkan perlakuan biofilter sebelum masuk ke selokan. Air selokan yang lebih baik kualitasnya bisa menjadi lanskap produktif (media untuk praktik pertanian perkotaan).

“Kita juga bisa mulai mendidik masyarakat untuk membangun rumah menghadap air. Mulai mengubah halaman rumah kita menghadap aliran sungai, ke arah saluran irigasi bahkan ke arah selokan. Bukan membelakanginya. Ini tujuannya agar masyarakat tidak buang sampah ke badan air, karena pasti mereka akan risih melihat perairan yang kotor. Selain itu, saluran air ini bisa digunakan untuk memelihara ikan,” ujarnya.(zul)

Download PDF : Guru Besar IPB : Air Irigasi Bisa untuk Air Perkotaan