Guru Besar IPB : Pemerintah Sudah Tahu, Tahun 2018 Cadangan Minyak Bumi Indonesia Habis

Tahun ini, hari Hutan Internasional yang diperingati setiap tanggal 21 Maret mengusung tema energi. Maka untuk memperingati hari Hutan Internasional, tiga Guru Besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan hasil pemikirannya di hadapan pers, Senin (20/3) kemarin di Exlounge Kampus IPB Baranangsiang, Bogor.

Temu pers menghadirkan Prof. Dr. Herry Purnomo (Departemen Manajemen Hutan), Prof. Dr. Fauzi Febrianto (Departemen Hasil Hutan) dan Prof. Dr. Ani Mardiastuti (Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata).

Pemerintah Indonesia telah memprediksi bahwa dengan konsumsi minyak bumi seperti sekarang, maka cadangan minyak bumi akan habis pada tahun 2018. Diantara alternatif sumber energi, manakah yang dapat dihasilkan dari hutan Indonesia, khususnya dari kawasan konservasi dan hutan lindung?

Dalam paparannya yang berjudul “Optimasi Sumber-Sumber Energi dari Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung”, Prof. Ani Mardiastuti mengatakan pemerintah telah menyisihkan areal-areal tertentu sebagai kawasan konservasi dan hutan lindung. Kawasan konservasi dapat memiliki fungsi beragam. Jika kawasan konservasi dan hutan lindung dapat dipertahankan, maka kawasan ini akan memberikan jasa lingkungan.

“Sehamparan hutan berkualitas baik dapat menyumbang energi secara tidak langsung, yakni dalam bentuk pengaturan tata air dan pencegahan erosi tanah. Pengaturan tata air dapat menjadi sumber untuk energi air (hydro) dan panas bumi (geothermal). Erosi yang dicegah oleh keberadaan hutan dapat mempertahankan umur pakai dari bendungan dan bendungan pembangit energi listrik,” ujarnya.

Menurutnya, sudah waktunya Indonesia melakukan intensifikasi, diversifikasi dan konservasi energi. Intensifikasi energi dapat dilakukan melalui optimalisasi kemampuan produksi sumber energi dari hutan. Energi air (bendungan dan waduk) sudah mulai dimanfaatkan dari jasa hutan terhadap ekosistem dan lingkungan.

“Namun tanpa pengendalian terhadap erosi, bendungan dan waduk akan berumur pendek karena kapasitas bendungan berkurang akibat sedimentasi. Umur waduk dan bendungan yang harusnya bisa 100 tahun kini hanya bisa 50 tahunan. Untuk geothermal, kerjasama antar lembaga sangat diperlukan agar diperoleh energi yang “bersih” dan berkesinambungan,” ujarnya.

Untuk diversifikasi energi, selain energi air dan panas bumi, dari hutan bisa diperoleh bahan bakar nabati (BBN), misalnya dari nyamplung dan kemiri sunan. Sementara itu, konservasi atau penghematan energi harus menjadi program nasional.

“Sebagai sebuah negara, Indonesia perlu mentargetkan program ‘renewable and sustainable clean energy’, yakni bersih, berkelanjutan dan ramah lingkungan yang berasal dari energi terbarukan. Beberapa alternatif ini bisa didapatkan dari hutan. Oleh karenanya hutan harus dijaga untuk memperoleh jasa lingkungan dari hutan berupa pengaturan tata air dan pencegahan erosi dan juga produk biomassanya,” ujarnya (zul)

Download PDF : Guru Besar IPB : Pemerintah Sudah Tahu, Tahun 2018 Cadangan Minyak Bumi Indonesia Habis