Guru Besar IPB : Stop Swasembada Beras Demi Terwujudnya Diversifikasi Pangan

Darurat ketergantungan terhadap beras adalah masalah serius. Segala upaya pemerintah dalam mempertahankan swasembada beras bukanlah solusi yang tepat, karena ketersediaan beras yang melimpah membuat masyarakat hanya mampu menjadikan beras sebagai pilihan. Lalu, bagaimana langkah strategis dalam mewujudkan diversifikasi pangan sebagai solusi dalam membangun pertanian yang berkelanjutan tanpa menjadikan pangan sebagai beban ekonomi?

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Manuntun Parulian Hutagaol membahas dengan tuntas strategi menuju diversifikasi pangan dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Dari Ketergantungan Pangan pada Beras Menuju Diversifikasi Pangan : Pangan Tidak Lagi Beban Ekonomi tapi Modal Pembangunan Nasional”, belum lama ini, di Kampus IPB Darmaga, Bogor.

Prof. Manuntun lahir pada tanggal 4 September 1957 di Sigumpar (Kab. Tobasa). Ia menempuh kuliah S-1 dan S-2 di IPB jurusan Ekonomi Pertanian kemudian melanjutkan S-3 di The University of Queensland, Australia jurusan Ekonomi Kelembagaan dengan beasiswa dari Ford Foundation.

Usaha pemerintah dalam menyediakan subsidi pupuk sebagai bentuk meringankan biaya produksi petani ternyata bukanlah solusi yang tepat. Pasalnya, harga gabah tetaplah rendah karena petani membutuhkan uang cepat agar bisa mengirigasikan air dan mempersiapkan semua kebutuhan untuk bertani kembali. Itulah sebabnya jika pemerintah hanya bertumpu pada swasembada beras maka akan sulit menciptakan pertanian yang berkelanjutan karena sumberdaya alam (SDA) yang ada sudah terbatas, belum lagi lahan sawah yang terus berkurang di saat permintaan beras terus meningkat. Selain itu kondisi tanah yang ada di Pulau Jawa juga sudah tidak mampu lagi menyerap air karena pemupukan yang terus-menerus.

Langkah strategis yang dapat dilakukan adalah dengan memberhentikan swasembada beras. Bukan berarti berhenti memproduksi beras melainkan mengurangi produksinya dengan cara menggantinya dengan jenis pangan karbohidrat non-beras. Namun, diversifikasi pangan tidak akan pernah terwujud jika dijalankan bersamaan dengan swasembada beras, karena masyarakat pasti akan memilih yang ketersediaannya lebih banyak. Di sini pentingnya peranan para pengusaha dan masyarakat dalam mewujudkan diversifikasi pangan dalam mendorong pembangunan nasional yang mampu berorientasi menjadi pasar ekspor.

Gagasannya memaparkan strategi dalam mewujudkan diversifikasi pangan perlu dijadikan teladan serta sebagai gambaran bagi pemuda untuk berkontribusi dalam memajukan sektor pertanian. Setiap usaha yang ia lakukan hanya berprinsip bahwa tidak ada kesuksesan tanpa ketekunan. Ketekunan dalam berkarya adalah salah satu jiwa yang harus dimiliki oleh para Guru Besar IPB. Namun, diperlukan pula kemampuan dalam menyeimbangkan antara berkarya dan bekerja. Inilah cuplikan ide Prof. Manuntun yang patut untuk diteruskan.(SM)

Download PDF : Guru Besar IPB : Stop Swasembada Beras Demi Terwujudnya Diversifikasi Pangan