Kesederhanaan Sang Profesor Nur

Umumnya seorang profesor berpenampilan rapi, klimis dan serius. Tapi tidak untuk sosok alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan tahun 1984 ini. Dengan penampilannya berbaju putih, bersorban putih dan berjenggot panjang, ia lebih layak disebut kyai atau ustad di Indonesia. Sosok itu adalah Prof.Dr.Ir. Nur Tjahyadi, M.Sc yang memulai karir akademisi sebagai asisten berbagai mata kuliah di IPB.

 

Selanjutnya, ia membuka bermacam-macam usaha, diantaranya developer rumah, beternak burung, itik, ikan dan sebagainya. “Konsumen membayar langsung ke saya tanpa bunga. Banyak juga yang belum lunas sampai sekarang. Obsesi saya cuma membantu orang, walaupun kemampuan saya sangat terbatas. Saya tidak mikir untung atau yang muluk-muluk. Saya bisa makan, sehat dan ibadah dengan lancar itu sudah syukur Alhamdulillah,” kata pria yang sejak kecil sudah terbiasa berwirausaha ini.

 

Ia menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Bristol hanya dalam waktu sebelas bulan dan  menyelesaikan S3 di Universitas Wales, Inggris pada tahun 1996. “Dalam masa sebelas hari penelitian S3, saya sudah dinyatakan layak untuk doktor. Atas prestasi itulah, penelitian saya kemudian diliput BBC London dalam acara Young Ecologist,” kisahnya.

 

Suatu hari, profesor di bidang aplikasi biologi (pertanian, lingkungan, bioteknologi dan perlindungan tanaman) ini bermimpi bertemu Nabi Ibrahim, Nabi Daud dan Nabi Ayub. Sementara  istrinya dua kali bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.  “Semua itu mengisyaratkan saya untuk berdakwah ke seluruh dunia,” ujar pria yang  sudah pernah mengunjungi Inggris, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, India dan  Bahrain ini.

Ia kemudian mendirikan Pondok Pemberdayaan Kewirausahaan Amanah Sejahtera (PKAS) An Nur. Untuk ini, ia membeli tanah 3.500 meter persegi di Ciampea, Kabupaten Bogor seharga Rp 400 juta dan membuat pondok pesantren dengan konsep dakwah. “Di area pondok pesantren, kami bertani beragam tanaman, ternak dan perikanan. Banyak mahasiswa

 

IPB yang magang di sana,” lanjut penulis berbagai buku pertanian ini.

Ditanya alasan memilih usaha di bidang pertanian, ia mengatakan bahwa dengan usaha yang ditekuninya saat ini, ia tidak perlu bergantung mendapatkan penghasilan dari orang yang didakwahi. “Pekerjaan yang paling bebas untuk juru dakwah adalah petani. Kita tidak boleh terima uang dari orang yang kita dakwahi. Walaupun hanya kenal di dunia maya, teman-teman alumni IPB juga ikut membantu modal pengembangan PKAS,” tandasnya. (ris)

Kontak person Prof. Nur Tjahyadi :085780279071Umumnya seorang profesor berpenampilan rapi, klimis dan serius. Tapi tidak untuk sosok alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan tahun 1984 ini. Dengan penampilannya berbaju putih, bersorban putih dan berjenggot panjang, ia lebih layak disebut kyai atau ustad di Indonesia. Sosok itu adalah Prof.Dr.Ir. Nur Tjahyadi, M.Sc yang memulai karir akademisi sebagai asisten berbagai mata kuliah di IPB.

 

Selanjutnya, ia membuka bermacam-macam usaha, diantaranya developer rumah, beternak burung, itik, ikan dan sebagainya. “Konsumen membayar langsung ke saya tanpa bunga. Banyak juga yang belum lunas sampai sekarang. Obsesi saya cuma membantu orang, walaupun kemampuan saya sangat terbatas. Saya tidak mikir untung atau yang muluk-muluk. Saya bisa makan, sehat dan ibadah dengan lancar itu sudah syukur Alhamdulillah,” kata pria yang sejak kecil sudah terbiasa berwirausaha ini.

 

Ia menyelesaikan pendidikan S2 di Universitas Bristol hanya dalam waktu sebelas bulan dan  menyelesaikan S3 di Universitas Wales, Inggris pada tahun 1996. “Dalam masa sebelas hari penelitian S3, saya sudah dinyatakan layak untuk doktor. Atas prestasi itulah, penelitian saya kemudian diliput BBC London dalam acara Young Ecologist,” kisahnya.

 

Suatu hari, profesor di bidang aplikasi biologi (pertanian, lingkungan, bioteknologi dan perlindungan tanaman) ini bermimpi bertemu Nabi Ibrahim, Nabi Daud dan Nabi Ayub. Sementara  istrinya dua kali bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.  “Semua itu mengisyaratkan saya untuk berdakwah ke seluruh dunia,” ujar pria yang  sudah pernah mengunjungi Inggris, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, India dan  Bahrain ini.

Ia kemudian mendirikan Pondok Pemberdayaan Kewirausahaan Amanah Sejahtera (PKAS) An Nur. Untuk ini, ia membeli tanah 3.500 meter persegi di Ciampea, Kabupaten Bogor seharga Rp 400 juta dan membuat pondok pesantren dengan konsep dakwah. “Di area pondok pesantren, kami bertani beragam tanaman, ternak dan perikanan. Banyak mahasiswa

 

IPB yang magang di sana,” lanjut penulis berbagai buku pertanian ini.

Ditanya alasan memilih usaha di bidang pertanian, ia mengatakan bahwa dengan usaha yang ditekuninya saat ini, ia tidak perlu bergantung mendapatkan penghasilan dari orang yang didakwahi. “Pekerjaan yang paling bebas untuk juru dakwah adalah petani. Kita tidak boleh terima uang dari orang yang kita dakwahi. Walaupun hanya kenal di dunia maya, teman-teman alumni IPB juga ikut membantu modal pengembangan PKAS,” tandasnya. (ris)

Kontak person Prof. Nur Tjahyadi :085780279071

Download PDF : Kesederhanaan Sang Profesor Nur