Gregori Garnadi Hambali : Penemu Aglaonema Varietas Baru “The Pride of Sumatra”

Greg Hambali sapaan hangat untuk seorang Gregori Garnadi Hambali sang Bapak Aglaonema Indonesia. Berawal dari hobinya akan tanaman dan kecintaannya terhadap alam, Greg kecil telah menunjukkan bakat dan minatnya terhadap tanaman. Terbukti saat duduk di bangku sekolah menengah pertama Greg telah mampu menyilangkan buah pepaya. Pepaya jenis semangka (pepaya bentuk bulat) ia silangkan dengan pepaya burung hanya dengan bermodalkan pengetahuan dari sebuah buku tentang pembuatan varietas baru. Pengalaman ‘iseng’ itulah yang selanjutnya membawa Gregori Hambali pada dunia persilangan tanaman.

Mengambil jurusan Biologi Pertanian di Institut Pertanian Bogor tahun 1969, membuat Greg semakin rajin menyilangkan tanaman. Saat itu ia mulai mencoba melakukan penyilangan terhadap tanaman jagung. Keseriusan Greg pada dunia tanaman membuat Dr. Mien A. Rifai selaku Kepala Herbarium Bogoriense, Lembaga Biologi Nasional, LIPI merekrutnya sebagai pegawai. Kesempatan tersebut tentu tidak ia siasiakan. Berbekal ijazah SMA, Greg yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa IPB terus memperdalam pengetahuannya. Sejak bergabung dengan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), pada tahun 1973 Greg terus memperdalam pengetahuannya dalam penelitian tentang sistem reproduksi tumbuhan tropika yang menyangkut proses penyerbukan dan pemencaran biji. Minatnya terutama terletak pada keterlibatan binatang dalam kelangsungan hidup tanaman.

Selama bekerja di LIPI Greg Hambali terus mengukir eksistensinya sebagai peneliti muda. Tawaran untuk memperdalam pengetahuannya pun ia raih. Greg mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Birmingham, Inggris pada tahun 1975-1976 dalam bidang konservasi dan pemanfaatan sumberdaya genetik tanaman. Sekembalinya dari Inggris, Greg lebih banyak menghabiskan waktunya di lapangan untuk meneliti sistem reproduksi tanaman pertanian yang meliputi antara lain proses penyerbukan pada talas, durian, ubi jalar, dan kangkung. Pada awalnya berbagai tanaman hasil persilangannya tidak pernah ia komersilkan. Persilangan yang Greg lakukan semata-mata untuk memenuhi rasa ingin tahunya akan proses-proses yang menyangkut perkembangan keanekaragaman tanaman di alam. Merasa tidak sesuai dengan idealismenya, Greg akhirnya memutuskan untuk berhenti dari LIPI. Ia ingin lebih bebas mengekspresikan segala keinginannya dalam bidang penelitian tanaman hidup di lapangan.

Setelah berhenti bekerja di LIPI, Greg Hambali meneliti salak dan tanaman palem. Beberapa silangan salak berhasil ia temukan seperti antara lain salak “Sidempon” dan “Mawar”. Julukan ‘Greg Salak’ pun ia dapatkan seiring bermunculannya berbagai varian buah salak hasil penelitiannya. Tak hanya pada salak, suami dari Indrijani Hambali ini pun mendapat julukan sebagai ‘Raja Palem’ karena hobinya mengkoleksi aneka ragam tanaman palem. Tak hanya sekedar mengumpulkan, Greg Hambali pun melakukan persilangan. Greg menyilangkan Sommieria leucophylla dengan S. elegans. Hasil persilangannya itu meraih juara dua dan tiga perlombaan untuk kategori palem dalam Pameran Flora dan Fauna (Flona) tahun 2005.11 Nama Gregori Hambali semakin dikenal oleh berbagai kalangan, khususnya para pecinta tanaman hias. Namanya meroket ketika ia menemukan Pride of Sumatra varietas baru tanaman aglaonema pada tahun 1987. Greg menemukan Pride of Sumatra dengan menyilangkan Aglaonema “Precursor” (A. commutatum var tricolor x A. rotundum) dengan A. rotundum. Varietas baru itu tak hanya dikagumi oleh para pecinta tanaman hias lokal, namun keindahan Pride of Sumatra pun dikagumi oleh pecinta tanaman hias mancanegara. Gelar juara diraih si daun merah saat mengikuti perlombaan di Belanda. Ketertarikannya terhadap tanaman hias aglaonema dimulai ketika ia menjadi juri pada salah satu kontes tanaman hias di Pasar Seni Ancol, Jakarta. Sebenarnya Greg telah mulai meneliti aglaonema di akhir tahun 1982.

Greg meyakini bahwa aglaonema memiliki daya tarik yang luar biasa. Setelah Pride of Sumatra, tangan dingin Greg Hambali terus menghasilkan berbagai varietas baru aglaonema. Tiga puluh satu varietas aglaonema telah didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Departemen Pertanian. Pecinta tanaman hias yang manakah yang tidak mengenal ‘The Big Five’ aglaonema. Lima varietas baru karya Greg itu begitu mempesona. Bahkan saat dilakukan lelang pertama kali, salah satu karya Greg itu yang bernama Harlequin terjual dengan harga enam ratus enam puluh juta rupiah, harga yang fantastis untuk sebuah karya yang luar biasa pula. Usahanya itu memang pantas mendapatkan penghargaan yang tinggi. Pasalnya menyilangkan tanaman untuk menemukan varietas baru bukanlah hal mudah. Diperlukan bertahun-tahun bagi Greg menciptakan berbagai karya yang spektakuler itu. Layaknya ‘mak comblang’ keahlian Greg dalam persilangan tanaman tak dapat diragukan lagi. 12 Sumber :petanibunga.com, 2010 Kegigihan dan ketekunan yang ia lakukan semata demi mewujudkan cita-cita dan harapan untuk mengembangkan tanaman tropis Indonesia.

Greg berharap tanaman tropis Indonesia memiliki daya tarik yang tinggi sehingga dapat menggeliatkan pasar hortikultura dunia. Sang ‘Bapak Aglaonema Indonesia’ terus berkarya menghasilkan berbagai varietas baru. Walau tengah memasuki usia 60 tahun, ketekunan Greg Hambali dalam bidang persilangan tanaman tak kan pernah surut. Pada tahun 2010 pemerintah Indonesia pada akhirnya memberikan penghargaan Anugerah Kekayaaan Intelektual Luarbiasa (AKIL) dalam bidang Varietas Tanaman atas kerja kerasnya yang menghasilkan varietas-varietas tanaman hias baru yang mengharumkan nama Indonesia di dunia hortikultura.

Download PDF : Gregori Garnadi Hambali : Penemu Aglaonema Varietas Baru “The Pride of Sumatra”