Berkat Indigofera, Dosen IPB Raih Peringkat Dua Dosen Berprestasi Nasional 2016

Dosen sekaligus peneliti dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (INTP) Fakultas Peternakan (Fapet) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Luki Abdullah, M.ScAgr. berhasil meraih penghargaan sebagai peringkat kedua Dosen Berprestasi Tingkat Nasional. Penghargaan ini diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam acara Anugerah Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Diktendik) Berprestasi Tingkat Nasional 2016 di Bandung, akhir bulan lalu.

Pemilihan Diktendik Berprestasi ini rutin diselenggarakan oleh Kemenristekdikti sejak tahun 2004 sebagai wujud apresiasi terhadap dosen dan tenaga kependidikan yang berdedikasi tinggi pada profesinya. Terdapat enam kategori penghargaan dalam pagelaran akbar ini, yaitu dosen, ketua program studi, laboran, pustakawan, pengelola keuangan, dan tenaga administrasi akademik berprestasi.

Kemenangan Prof. Luki sebagai peringkat kedua dari 63 dosen terbaik di setiap perguruan tinggi di Indonesia tak lain karena kiprahnya di bidang penelitian, pendidikan dan pembelajaran, serta pengabdian masyarakat (Tridharma Perguruan Tinggi). Buah pikirnya pun telah banyak dimuat di jurnal tingkat nasional dan internasional. Dalam lima tahun terakhir ini tercatat 39 karyanya berhasil publikasi dengan 16 karya diantaranya terindeks scopus.

Karya inovasi yang diunggulkannya adalah Konsentrat Hijau Indigofera, pakan hijauan dari tanaman Indigofera zollingeriana (polong-polongan). Selain memiliki kandungan gizi yang tinggi untuk pertumbuhan hewan ternak, pakan indigofera juga dapat mengurangi biaya produksi. Teknologi pakan ini menjadi solusi dalam menekan biaya pakan yang selama ini menjadi persoalan di masyarakat.

“Biaya pakan terbilang sangat mahal, karena menghabiskan 65 persen dari total biaya produksi. Dengan adanya indigofera ini, bisa mendapatkan biaya pakan yang lebih murah bahkan bisa menekan sampai 41 persen,” terangnya.

Karyanya yang telah mendapatkan penghargaan Anugerah Inovasi Jawa Barat ini menjadi salah satu andalan dalam perhelatan itu. Salah satu keunggulannya adalah memiliki nilai Technology Readiness Level (TRL) yang cukup tinggi. Artinya dilihat dari kesiapan teknologi, pakan indigofera layak atau siap untuk diaplikasikan di industri dan masyarakat. “Saat ini program pakan indigofera sudah menyebar luas di sembilan titik di Indonesia dan akan dikembangkan di sepuluh titik di Jawa Barat,” ujarnya.

Karya unggulan Prof. Luki ini menjadi program nasional dalam mendukung swasembada daging melalui program Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB) 2017 dan menjadi salah satu dari program super prioritas Jawa Barat.

“Saat ini kami sedang mengembangkan quality assurance untuk memastikan produk pakan dan benih indigofera supaya memenuhi standar yang ditetapkan. Ke depannya target di tahun 2018 adalah menghasilkan 185 juta bibit indigofera yang saat ini sudah mulai dikembangkan di beberapa sentra pembibitan di seluruh Indonesia,” katanya.

Dengan motivasi untuk memberikan inspirasi kepada kaum muda, dosen kelahiran Sukabumi, 7 Januari 1967 ini telah menampilkan yang terbaik dan berkontribusi positif pada IPB. Atas kemenangannya, ia berharap karya keunggulannya ini terus dikembangkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Guru Besar IPB ini berpesan kepada kaum muda agar terus berkarya dan fokus terhadap suatu bidang yang digelutinya, sehingga menjadi seseorang yang unggul dalam bidang itu. (IM)

Download PDF : Berkat Indigofera, Dosen IPB Raih Peringkat Dua Dosen Berprestasi Nasional 2016