Peneliti IPB : Pestisida dan Pemaksaan Penanaman Padi Tanpa Jeda, Jadi Sebab Serangan Wereng Batang Coklat

Dalam dua bulan ini, Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) banyak menerima pesan melalui WhatsApp (WA) dan kiriman foto tentang serangan hama wereng batang coklat (WBC) dari petani-petani jaringan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB dan anggota Gerakan Petani Nusantara (GPN).  Kondisi ledakan hama ini menyerupai yang terjadi pada tahun 2011/2012, hanya saja lokasinya lebih luas. 

Pada tahun 2011/2012 ledakan hanya terjadi di sentra produksi padi di Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta) dan menyebabkan Indonesia harus impor sekira dua juta ton.  Ledakan WBC yang sekarang juga dilaporkan di daerah lain dan luar Jawa, seperti Pandeglang, Sumatera selatan (OKU dan OKUT), Jambi, Sumut, Lampung dan Sulawesi.  

Fenomena ledakan wereng ini selain karena faktor agroklimat ternyata juga dipicu oleh penggunaan pestisida. Penelitian IPB sejak tahun 1986 hingga sekarang menunjukkan hubungan positif antara wereng dan penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida mendorong peningkatan serangan wereng. Semakin sering menyemprot, maka peluang terjadinya puso semakin besar.

“Penyebab ledakan adalah pemaksaan penanaman padi yang terus-menerus tanpa jeda, penggunaan insektisida yang terlarang untuk padi, serta pemupukan yang tidak seimbang, serta kesuburan tanah yang kritis. Penggunaan pestisida (insektisida, fungisida, herbisida dan bakterisida) pada padi sawah sangat tinggi, di Karawang rata-rata 11 kali per musim, di Klaten 12 kali per musim. Hal ini melemahkan ketahanan ekosistem sawah karena matinya serangga musuh alami, kematian mikrob endofit, kerusakan keanekaragaman hayati mikroflora dan mesofauna dan rusaknya jaring makanan yang kompleks di sawah,” ujar Dr. Hermanu Triwidodo, peneliti di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian (Faperta) IPB.

Klinik Tanaman IPB, LPPM IPB dan GPN telah memberi peringatan akan kemungkinan terjadinya ledakan WBC dan menyediakan teknologi untuk menghindarinya. Ledakan wereng coklat tersebut disebabkan oleh adanya spot populasi wereng  coklat di hampir semua  daerah sentra produksi padi di Pulau Jawa. Dan prakiraan curah hujan di atas normal pada  berbagai sentra beras pada musim hujan dan penggunaan pestisida terlarang dan aplikasi yang berlebihan oleh petani.

“Faktor lainnya adalah penggunaan pestisida yang berlebihan. Sebabnya marketing dan distribusi pestisida yang tidak terkontrol, kekalahan pelayanan pemerintah di bidang pertanian di banding kios pestisida,  banyaknya bantuan pestisida oleh pemerintah, dan petani lupa akan Pengendalian Hama Terpadu (PHT),” ujarnya.

Berdasar pada permasalahan tersebut, Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB merekomendasikan penegasan kembali Inpres No. 3 Tahun 1986 tentang penerapan PHT dan pelarangan 57 jenis insektisida dan pelarangan terhadap pestisida lain penyebab resurgensi wereng pada tanaman padi. Moratorium pengadaan pestisida oleh pemerintah serta pengalokasian pendidikan petani dan pemberdayaan pembuatan sarana pengendalian ramah lingkungan.

Untuk musim tanam yang sedang berlangsung, jika terpaksa menggunakan pestisida, harus menggunakan pestisida yang mendapat ijin penggunaan untuk wereng.  Jajaran penyuluh harus secara proaktif memberikan penyuluhan, jangan menyerahkannya pada kios penjual racun. Perlu penataan kembali regulasi pengelolaan pestisida  mulai pendaftaran, produksi, distribusi, pemasaran dan pemusnahannya,” terangnya.

Peningkatan kerjasama dan koordinasi antara Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan organisasi petani dalam pengembangan upaya penanggulangan ledakan wereng. Sinkronisasi dan harmonisasi kinerja aparat pertanian secara vertikal (pusat-daerah) dan horisontal (antar lembaga pelayanan pertanian) perlu ditingkatkan untuk mengatasi serangan WBC.(Zul)

 

Download PDF : Peneliti IPB : Pestisida dan Pemaksaan Penanaman Padi Tanpa Jeda, Jadi Sebab Serangan Wereng Batang Coklat