Gatot Supriadi, A.Md, Laboran Berprestasi Nasional Peringkat II Tahun 2013: Dari Laboratorium untuk Dunia

Berawal dari permasalahan di Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Gatot Supriadi, A.Md berhasil mengembangkan alat probe thermocouple dan modifikasi thermorecorder sederhana, murah dan unggul. Sebuah alat kecil yang berfungsi untuk mengukur kecukupan proses panas atau termal dan juga dapat memberikan data penetrasi panas selama proses sterilisasi atau pasteurisasi berlangsung. Alat buatan Gatot itu sudah banyak dipakai untuk praktikum dan berguna bagi industri kemasan dalam serta luar negeri. Kenapa alat ini begitu penting bagi dunia kemasan, khususnya kemasan untuk makanan? Gatot yang bekerja sehari-hari sebagai laboran ini memaparkan bahwa penggunaan panas yang tidak tepat pada produksi pangan kalengan dapat mengakibatkan terjadinya penurunan nilai mutu gizi dan mutu sensori pangan sampai ke tingkat yang tidak dikehendaki karena kelebihan panas. Panas yang tidak tepat juga menyebabkan makanan dalam kaleng membusuk setelah disimpan. Selain itu, panas yang kurang tepat menyebabkan pertumbuhan mikroba Clostridium botulinum yang menghasilkan botulinin. Botulinin ini sangat beracun dan dapat membunuh manusia. “Steril komersial salah satu syarat jaminan keamanan produk pangan kalengan dalam berbagai jenis dan ukuran wadah atau kemasan dari bahaya mikrobiologis pada perdagangan pangan internasional,” ujar pria yang sudah menghasilkan 26 inovasi/ide/gagasan dan sudah diimplementasikan ini.

Gatot menjelaskan, produk steril komersial diperoleh melalui proses sterilisasi atau pasteurisasi produk pangan pada suhu dan waktu tertentu untuk membunuh mikroba patogen maupun mikroba pembusuk yang terdapat di dalamnya. Alat ukur yang dibutuhkan untuk proses tersebut diantaranya kabel thermocouple, probe thermocouple dan thermorecorder. Cara kerjanya yaitu panas yang diterima produk pangan selama proses sterilisasi direkam dengan menggunakan kabel thermocouple dan thermorecorder. Sensor panas pada ujung kabel thermocouple dipasang pada titik terdingin produk melalui lubang yang dibuat pada kemasan. Sensor panas akan merespon setiap terjadi perubahan temperatur produk, kemudian mengalirkannya melalui kabel thermocouple ke thermorecorder yang diletakkan di luar bejana pemanas. Untuk mencegah kebocoran panas pada lubang kemasan yang dilewati kabel thermocouple digunakan probe thermocouple. “Karena alat buatan pabrik sangat mahal dan memerlukan waktu tunggu yang lama untuk pemesanannya, maka saya tertarik untuk membuat alat sederhana dengan biaya yang relatif murah,” ujar pria kelahiran Jember, 17 Mei 1960 ini. Gatot yang lulusan Pendidikan Guru Kejuruan Pertanian atau Bidang Studi Teknologi Hasil Pertanian, IPB tahun 1992 tersebut memaparkan, alat buatannya dibandingkan dengan buatan pabrik memiliki beberapa kelebihan diantaranya: akurat, kuat, flexible (buatan pabrik tidak flexible). Alat ini bisa diproduksi 20 unit per minggu. Sementara buatan pabrik dibutuhkan waktu 2-3 bulan. Biaya produksinya pun lebih murah. Setiap unitnya Rp 100 ribu rupiah, sementara buatan pabrik Rp 1,5 - 2 juta per unit. Berkat alatnya ini penelitian untuk pengembangan produk dan proses pangan steril komersial sudah dapat dikerjakan sampai pada tahap teknis.

Dengan temuannya ini, kata Gatot, kerjasama dengan industri pengalengan pangan di dalam negeri dan luar negeri sudah dapat dilaksanakan sampai pada tahapan teknis, yaitu pengukuran kecukupan proses termal. Yang tak kalah pentingnya, Laboratorium Rekayasa Proses Pangan IPB selama ini sudah berkontribusi dalam menghasilkan lulusan berkompeten di bidang produksi pangan steril komersial. (man)

 

Download PDF : Gatot Supriadi, A.Md, Laboran Berprestasi Nasional Peringkat II Tahun 2013: Dari Laboratorium untuk Dunia